“Itu pasti akan tercapai, Ki Ageng Pengging. Selama kita tidak berhenti berusaha.” terang Syekh Siti Jenar. “Syekh, saya ingin kembali menanyakan tentang sabda alam tadi.” “Silahkan, Ki Chantulo!” “Maksud dari berita kematian itu seperti apa? Bukankah kita semua pasti akan mati?””Benar, Ki Chantulo. Namun maksudnya disini ada keterkaitan dengan Kerajaan Demak. Kematian yang dimaksud disini terkait dengan para penguasa negeri Demak Bintoro.” Syekh Siti Jenar menghentikan bicaranya, seraya jari-jemari tangannya memainkan untaian mata tasbih, dari mulutnya meluncur dzikir, istigfar, tahmid, tahlil dan tasbih. “Terkait pula dengan persoalan keyakinan, terkait pula dengan kekacauan yang mengancam keamanan dan ketentraman negara, terkait pula dengan banyak persoalan.” “Kenapa mesti beritanya sampai kepada kita? Seakan-akan itu semua akan kita alami?” “Ya,” “Jadi?” “Tidak perlu takut, bukankah saya sudah membekali andika semua dengan ilmu sehingga tidak menjadikannya aneh dan menakutkan. Sebaliknya kenikmatanlah yang akan kita sambut.” “Mengapa hal itu mesti harus menimpa kita, Syekh? Bukankah kita tidak melakukan kesalahan?” “Lupakah andika pada uraian saya tadi.
Disini tidak lagi berbicara siapa yang benar dan salah? Karena ini semua sudah menjadi kehendak alam, sunatullah. Karena kehendak alam, makanya ilmu hamamayu hayuning bawana sebagai penyempurnanya.” “Saya kurang paham?” Ki Biosono memijit keningnya yang dikerutkan, lalu menatap tikar pandan yang didudukinya.
“Rasanya, tidak perlu dipahami untuk saat ini. Pemahaman tentang hal tadi akan andika genggam menjelang peristiwa itu mendekat.” terang Syekh Siti Jenar tenang. “Meski andika tahu akan hal tadi, amalkanlah hamamayu hayuning bawana. Bertebaranlah seperti sebelumnya andika di atas tanah jawa dwipa ini untuk menyebarluaskan ajaran agama Islam.” “Baiklah, Syekh. Saya tetap akan menebar rahmat bagi sekalian alam. Rahmatan lil alamin, hamamayu hayuning bawana.” ujar Ki Bisono. “Karena apa pun yang saya lakukan dalam penyebaran agama Islam ini bukan untuk mencari popularitas, bayaran, apalagi jabatan atau kekuasaan, serta pengaruh, namun itu semua saya dasari dengan keikhlasan dan keridlaannya.
Semoga pula Allah SWT. meridloinya.” “Amin.”
“Malam ini cuaca cerah. Lihatlah bintang-gemintang berkedap-kedip di langit!” Joyo Dento mengangkat kepalanya mendongak ke langit, ” Persiapkanlah diri kalian, senjata, kuda, dan akal.” lalu menatap pasukan berpakaian serba hitam yang berbaris rapih. Mereka sejumlah pasukan pemberontak yang telah mendapat gemblengan olah kanuragan dari para pendekar berlatar rampok, Kebo Benowo dan kawan-kawan. Disamping ilmu keprajuritan dari Joyo Dento. “Bagaimana kesiapan andika semua?” Kebo Benowo keluar dari sebuah pendopo yang dijadikan markas. Tempat yang mereka diami terpencil dari penduduk, karena berada tepat di pinggiran hutan. “Saya kira mereka suda siap, Ki Benowo.” ujar Joyo Dento mendekat. “Baguslah jika telah siap.” Kebo Benowo mengangguk-angukan kepala. “Sasaran pertama?” “Tentu saja sesuai dengan rencana.” Joyo Dento setengah berbisik, “Malam ini kita harus bisa melumpuhkan Kademangan Bintoro. Jika sudah berhasil, langsung kita duduki dan kuasai. Disanalah selanjutnya pusatkan sebagian kekuatan kita, lalu perlebar sayap.”
“Hahaha….andika memang cerdas, Dento.” raut wajah Kebo Benowo berseri, “Namun sudah memungkinkankah kita menggempur Kademangan Bintoro?” “Saya kira mungkin, Ki Benowo. Sebab kekuatan Kademangan Bintoro sudah melemah. Daya pikir rakyatnya sudah terpengaruh dengan ajaran hidup untuk mati.
Yang andika ajarkan dari Syekh Siti Jenar itu, sehingga mereka banyak yang bunuh diri dan tidak semangat hidup.” terang Joyo Dento, “Apalagi membela negerinya dari serangan kita, memikirkan diri sendiri pun sudah tidak tenang.” “Benar, Dento.” seringai Kebo Benowo, “Hebat juga pengaruh ilmu Syekh Siti Jenar jika demikian…terutama untuk membuat kekacauan.” “Kapan kita akan berangkat?” Loro Gempol menyilangkan golok di dadanya, “Rasanya saya sudah tidak sabar ingin memenggal leher penguasa Kademangan Bintoro!”
“Kita akan melakukan penyerangan jelang tengah malam.” jawab Joyo Dento. “Ketika mereka lengah dan baru saja menuju tempat tidur untuk bercengkrama dengan mimpi-mimpinya.” “Ya, saya setuju!” ujar Loro Gempol diiringi tawanya yang berderai. “Hai, para pasukan gelap sewu! Andika dalam penyerangan nanti jangan ragu-ragu untuk membunuh. Tidak perlu kalian mengasihani musuh sebelum mereka bertekuk lutut!” “Siap!” jawab pasukan gelap sewu serempak. “Hahaha…bagus jika andika semua sudah siap! Kita akan bergerak dan bertindak sesuai rencana yang telah disusun Joyo Dento.” terang Loro Gempol. Mereka percaya sepenuhnya pada setiap nasehat Joyo Dento.
Malam semakin larut, udara terasa semakin dingin, mengusik pori-pori kulit meski berpakaian tebal tetap terasa. Meski berada dalam ruangan tetap angin malam menyelinap melalui lubang-lubang angin yang membentengi pendopo Kademangan Bintoro. Di ruang pendopo Kademangan Bintoro tampak Ki Demang, Ki Sakawarki, ulama yang dianggap berilmu paling tinggi di Kademangan, juga beberapa santrinya, dan ditambah beberapa prajurit senior. “Itulah hasil perundingan saya dengan para wali dan ulama di masjid Demak, Ki Sakawarki.” ujar Ki Demang Bintoro. “Jika memang demikian keputusan sidang para wali, insya Allah saya mulai besok akan melakukan penyelidikan yang lebih mendalam tentang ajaran Syekh Siti Jenar.” ujar Ki Sakawarki. “Mohon maaf, Guru.” ujar Santri penuh hormat, “Menurut yang saya ketahui, sesungguhnya bukan hanya rumor.
Namun benar bahwa ajaran Syekh Siti Jenar yang menyesatkan telah tersebar di Kademangan Bintoro.” “Benarkah?” “Benar, Guru. Kemarin saya melewati pasar, di sana banyak orang miskin yang berbicara ngelantur. Serta dari mulutnya komat-kamit menyebut nama syekh Siti Jenar.” “Apa yang dibicarakannya?” Ki Sakarwaki menyapu wajah santri dengan tatapan matanya, “Ngelanturnya seperti apa sehingga andika menyimpulkan sesat?” “Mereka berbicara bahwa hidup itu lebih indah dari pada mati. Tidak ada artinya kita hidup jika hak kita dirampas oleh penguasa Demak. Hidup untuk mati, mati itu indah, hidup Syekh Siti Jenar!” ki santri berhenti sejenak, “Itulah yang saya dengar dan lihat, Guru.” “Mati itu indah? Celaka!” Ki Sakawarki terperanjat. “Yang paling celaka, mereka telah berani mengatakan bahwa hak hidup mereka dirampas oleh penguasa Demak.” Ki Demang tersentak, mukanya berubah angker, “Beraninya Syekh Siti Jenar mengajari rakyat Kademangan Bintoro untuk berkata lancang! Jelas selain menyesatkan juga punya tujuan makar terhadap pemerintahan yang syah.” “Benar pendapat, Ki Demang!” Ki Sakawarki menganggukkan kepala, tangannya terkepal giginya gemeretak. “Sudah sepantasnya kita mengadakan tindakan dengan segera!” “Ya, Ki Sakawarki.
Saya kira alasan seperti itu sudah cukup untuk melakukan penangkapan terhadap Syekh Siti Jenar dan pengikutnya.” Ki Demang Bintoro bangkit dari duduknya, tangannya dikepalkan sekuat tenaga. “Karena mereka telah melakukan dua kesalahan. Pertama menyampaikan ajaran sesat, kedua telah berani mempengaruhi rakyat untuk berbuat makar.” “Apakah kita akan langsung menangkap Syekh Siti Jenar? Atau segera melaporkan hal ini pada Para Wali dan Raden Patah?” “Sebelum melaporkan ke kerajan Demak dan para Wali sebaiknya kita melakukan penangkapan terlebih dahulu pada pengikutnya. Agar pelaporan kita disertai oleh bukti yang meyakinkan.” ujar Ki Demang. “Besok pagi saya akan memerintahkan beberapa orang prajurit untuk melakukan penangkapan! Saya minta agar Ki Sakawarki beserta para santri menyertainya!” “Baiklah, Ki Demang. Besok pagi akan saya kerahkan para santri menyertai para prajurit kademangan untuk melakukan penangkapan.”
“Bagus.” “Serbuuuuuuu!!!!” tiba-tiba terdengar teriakan di halaman kademangan, dibarengi suara benturan senjata. “Ada apa diluar sana?” Ki Demang Bintora tersentak kaget, belum juga mulutnya terkatup sudah diusik oleh suara yang menganggetkan. “Sepertinya ada peretempuran, Ki Demang?” Ki Sakawarki bangkitdari duduknya seraya menghunus keris, begitu juga para santrinya. “Ke….” belum juga Ki Demang melanjutkan perkataannya, dengan tergesa masuklah seorang prajurit penjaga. Langsung merunduk di hadapan Ki Demang seraya menghaturkan sembah. “Mohon ampun, Ki Demang.” “Apa yang terjadi diluar sana?” “Celaka, Ki Demang. Kademangn kita telah diserbu para murid Syekh Siti Jenar….” “Murid Siti Jenar?” Ki Sakawarki tercengang. “Itulah yang mereka sebut-sebut ketika melakukan penyerangan di luar sana.” terang prajurit. “Berarti itu bukan hanya dugaan, Ki Sakawarki. Tetapi benar yang kita simpulkan tadi. Mau tidak mau sekarang juga harus bertindak dan mengadakan perlawanan.” Ki Demang segera memasuki kamarnya, seraya kembali menghunus pedang dan mengenakan pakaian perang. “Seluruh prajurit harus berperang dan menumpas antek-antek Syekh Siti Jenar. Jangan segan-segan untuk bertindak tegas!” selanjutnya keluar dari ruangan, diikuti Ki Sakawarki beserta para santrinya dan pasukan prajurit.
Dalam keremangan malam yang diterangi kerlap-kerlipnya bintang di langit. Bulan belum lagi menjadi purnama, di pelataran kademangan Bintoro tampak berkelebatannya bayangan prajurit dan pasukan Gelap Sewu yang sedang bertarung. “Hahaha…..jangan sisakan yang tidak mau menyerah. Ilmu Syekh Siti Jenar menyertai kita!” teriak Loro Gempol yang berada di atas punggung kuda, menerobos pasukan lawan sambil membabatkan goloknya. “Tobaattttt….!” teriak seorang prajurit yang terkena sabetan golok Loro Gempol, terhuyung dan roboh dengan luka parah di lambungnya. “Hahaha….perlihatkanlah kehebatan kalian para prajurit dan petinggi negeri Demak! Saya yakin ilmu para wali tidak akan bisa mengalahkan ilmu guru kita, Syekh Siti Jenar yang agung.” Loro Gempol terus mengamuk, menerjang gelombang pasukan prajurit Kademangan Bintoro yang berlapis-lapis. “Ki Demang, dengarlah teriakan lelaki yang sedang mengamuk dan berusaha menerobos lapisan prajurit kita!” bisik Ki Sakawarki. “Benar, ternyata dia murid Syekh Siti Jenar.” Ki Demang Bintoro menggeleng-gelengkan kepala. “Betapa angkuhnya dengan kesaktian yang dimilikinya, Ki Sakawarki?” “Mengagunggkan Syekh Siti Jenar dan merendahkan para wali terhormat, Ki Demang.” “Sanggupkah kiranya kita mengalahkan mereka?” “Tidak perlu ragu, Ki Demang. Saya punya keyakinan Allah SWT. akan melindungi kita. Lihatlah jumlah pasukan kita lebih banyak jumlahnya dibandingkan dengan pasukan musuh yang berpakaian serba hitam.” “Saya kira pasukan mereka harus ditutup ruang geraknya.
Lalu robohkan pimpinannya yang sedang mencoba menembus lapisan pertahanan para prajurit. Jika pimpinannya roboh mereka akan mundur.” ujar Ki Demang Bintoro. “Biar saya yang akan loncat dan merobohkannya!” ujar Ki Sakawarki seraya bersiap-siap untuk loncat. “Kelihatannya dia bukanlah orang yang mudah dikalahkan. Karena tebasan senjata para prajurit seakan-akan tidak bisa melukai tubuhnya.” “Ki Demang, saya kira di dunia ini tidak ada orang yang hebat kecuali Allah.
Tidak ada salahnya jika saya mencoba menghadapinya demi mempertahankan tanah tercinta dari kedzaliman. Maka jihadlah jalan keluarnya.” Ki Sakawarki tanpa menunggu ucapan Ki Demang berikutnya, seraya dirinya menghunus keris dan melesat ke angkasa melewati barisan prajurit yang berlapis-lapis. “Hiaaaaattttt…….!!!!” “Pasukan pemanah bersiaplah kalian di belakangku! Jika pasukan terdesak, bertindaklah kalian!” “Siap, Ki Demang!” pasukan pemanah bersiap, untuk melepas anak panah. Busurnya sudah dipegang dengan kuat, talinya ditarik, anak panahnya dipasangkan, tinggal melepas sesuai perintah. Tubuh Ki Sakawarki yang melayang di angkasa terlihat sangat enteng dan ringan, bagaikan burung elang dengan sorot matanya yang tajam. Lalu menukik ke bawah, berbarengan dengan tendangan kaki kanannya yang menghantam dada Loro Gempol.
“Aduhhhh….!!!” betapa terperanjatnya Loro Gempol, ketika ada lelaki berjubah putih yang turun dari langit dan mengirimkan tendangan keras ke arah dadanya, hingga dirinya terpental dan jatuh dari punggung kuda. “Makhluk apakah yang menendang dadaku hingga terasa sesak dan panas….membakar sekujur tubuhku….” “Bukankah andika murid Syekh Siti Jenar yang sakti?” Ki Sakawarki melayang dan berdiri dihadapan Loro Gempol yang terhuyung, seraya tangan kirinya memegang dada. “Siapa andika? Mengapa bisa terbang seperti Syekh Siti Jenar guru saya?” “Saya Sakawarki, muridnya Sunan Kalijaga. Andika mengaku muridnya Syekh Siti Jenar dan menganggap remeh para wali.
Ternyata ilmu yang andika pelajari dari Syekh Siti Jenar tidak seberapa?” Ki Sakawarki mendekat, “Andika harus ditangkap karena telah berani melakukan pemberontakan dan……” Hiatttt….belum juga Ki Sakawarki selesai berbicara, Kebo Benowo dengan cepat menyambar tubuh Loro Gempol yang terhunyung-huyung. Dinaikan ke atas kuda dan melarikan diri dari pertempuran. “Mundurrrrrrr!!!!” teriak Kebo Benowo, seraya memacu kudanya dengan cepat. “Jangan lari keparat!” Ki Sakawarki bersiap untuk mengejar, namun Lego Benongo menghadangnya. “Kematian itu indah, kehidupan ini adalah penderitaan. Karena kematian lebih baik dari hidup miskin dan terjajah, hamamayu hayuning bawana.” ujar Lego Benongo, seraya menyilangkan golok di dadanya. “Tidak salah yang andika ucapkan, Ki Sanak?” Ki Sakawarki mengurungkan gerakan silatnya, sejenak berdiri dan mencerna ucapan Lego Benongo. “Mungkin inikah yang dinamakan sesat?” “Siapa yang sesat? Andikalah dan para wali, juga penguasa negeri Demak Bintoro yang sesat?” lalu Lego Benongo menyelinap di antara lautan prajurit yang merangsek, setelah itu melarikan diri. “Aku jadi kehilangan kejaran.” Ki Sakawarki mengincar salah seorang pasukan gelap sewu untuk ditangkap.
Mereka terlihat berlarian dari medan tempur setelah pimpinannya menghilang ditelan gelapnya malam. “Sulit juga menangkapnya. Mereka pintar menyelinap!” “Kademangan Bintoro telah terbebas dari pemberontak!” teriak para prajurit. Sebagian berjaga-jaga, yang lainnya menolong yang terluka, serta mengangkut korban tewas. “Ki Sakawarki, benar bukan mereka muridnya Syekh Siti Jenar?” Ki Demang Bintoro berdiri di samping Ki Sakawarki. “Ya, namun mungkinkah beliau mengajarkan ajaran seperti ini?” “Mengapa tidak mungkin?” ujar Ki Demang, “Bukankah kita sudah berhasil menangkap hidup-hidup salah seorang muridnya yang mengaku anggota pasukan gelap sewu. Orang ini kita bawa ke pusat kota Demak untuk memasuki persidangan para wali sebagai saksi dan bukti.” “Dimana dia?” “Dia berada dalam penjagaan para prajurit.” Ki Demang menunjuk ke utara, seraya kakinya melangkah pelan. “Mari kita tanyai!”
“Baiklah, mudah-mudahan bisa memperkuat dugaan kita dalam persidangan di majelis para wali.” Ki Sakawarki melangkah pelan disamping Ki Demang Bintoro. Ketika langkah keduanya hampir mendekat, para prajurit penjaga berteriak. Menyampaikan kabar bahwa, murid Syekh Siti Jenar bunuh diri dengan membenturkan kepalanya ke dinding hingga kepalanya pecah. Mendengar kabar demikian, Ki Sakawarki dan Ki Demang terkejut. Keduanya saling tatap seraya mengurut dada dan menarik napas dalam-dalam. “Sangat kuat pengaruh ajaran Syekh Siti Jenar, Ki Sakawarki.” Ki Demang Bintoro menggeleng-gelengkan kepala saat melihat jasad anggota pasukan Gelap Sewu yang terbujur kaku dengan kepala pecah, berlumuran darah. “Ajaran hidup mati, mati hidup.” “Ki Demang, kita sudah bisa mengambil kesimpulan bahwa benar ajaran Syekh Siti Jenar itu sesat dan menyesatkan.” Ki Sakawarki berjongkok disamping jasad. “Cukup bukti kita untuk kembali melaporkan hal ini ke hadapan para wali, Ki Sakawarki.” “Benar, kita harus segera melapor ke pusat kota Demak!” Demang Bintoro menganggukan kepala. “Sebagai bukti tidak ada salahnya jika jasad ini dibawa.” “Menurut hemat saya sebaiknya jasad ini kuburkan saja di sini selayaknya.
Kasihan jika harus dibawa ke Demak, sebab perjalanan kita memakan waktu hampir seharian. Setelah itu baru keesokan harinya kita bisa menguburkan setelah diperiksa para wali.” terang Ki Sakawarki. “Tidak ada salahnya jika jasad ini dikuburkan berbarengan dengan korban lainnya.” “Tapi dia beraliran sesat, Guru?” ujar seorang santri yang berjongkok disampingnya. “Ajarannya yang kita anggap sesat. Bukankah jasadnya tetap perlu kita hormati dengan penguburan yang selayaknnya.” terang Ki Sakawarki. “Saya setuju,” Demang Bintoro menganggukan kepala, “Prajurit kuburkanlah mereka dengan layak, begitu juga para korban tewas lainnya.” lalu memerintah. *** Padepokan Syekh Siti Jenar yang berada di kaki bukit Desa Khendarsawa, tampak hening. Matahari pagi mulai meninggi, kirimkan sinar terang dan kehangatannya. Cahayanya menerobos setiap celah dan ruang yang berada di atas bumi, tidak ada kecuali, tidak pula membeda-bedakan, seluruhnya terbagi sesuai dengan ketinggian matahari berada. Nun jauh di atas jalan yang terbentang panjang dan penuh kelokan, dua orang penunggang kuda bergerak cepat. Jalan yang membelah Desa Khendarsawa akan melintas ke arah padepokan Syekh Siti Jenar.
Penunggang kuda yang berada disampingkanannya tampak tegap dan kuat, tangan kirinya menuntun kuda disebelahnya, tampak terhuyung. Meringis kesakitan, tangannya berkali-kali memijit dadanya. “Aduhhhhh…..sakit…sesak….” keluhnya. “Tenang, Gempol. Padepokan Syekh Siti Jenar telah dekat.” ujar Kebo Benowo, mempercepat langkah kuda yang ditungganginya. “Saya sudah tidak kuat lagi, Ki Benowo.” keluh Loro Gempol, “Punya ajian apa sesungguhnya Kiai Kademangan Demak itu?” “Saya juga tidak tahu, Gempol.” terang Kebo Benowo, “Kita tanyakan semua ini pada guru kita di padepokan nanti. Hussss…hiahhh!” Kuda yang ditunggangi Kebo Benowo dan Loro Gempol, berhenti di kaki bukit, persis di depan jalan menanjak. Tanah bukit yang dipapas menyerupai anak tangga bertingkat itu tepat berada di bawah padepokan Syekh Siti Jenar. Kebo Benowo loncat dari atas kuda, perlahan menurunkan Loro gempol yang terhuyung.
Keduanya menaiki tangga dengan berat, setelah mengikat kedua kuda tunggangannya di bawah pohon rindang. “Keparat!” geram Loro Gempol, “Keterlaluan Syekh Siti Jenar ini, tinggal di dataran tinggi…..” keningnya meneteskan keringat dingin, tangannya memijat dada, langkahpun tidak seimbang. “Tidak perlu bicara seperti itu, Gempol.” bisik Kebo Benowo. “Adikan masih tidak menyadari juga kalau guru kita ini memiliki kesaktian tinggi? Apa pun yang kita bicarakan meskipun jauh beliau bisa mendengarnya.” “Omong kosong! Jika memang demikian tentu dia tahu ketika kita berada dalam kesulitan….” gerutu Loro Gempol. “Sssssssttttttt…” Kebo Benowo meletakan telunjuk dimulutnya. “Andika belum paham juga dengan ajaran hamamayu hayuning bawana.” terdengar suara Syekh Siti Jenar tepat ditelinga keduanya, “….bukankah kalian tidak boleh menebar kerusakan dimuka bumi ini, justru harus sebaliknya.” “Syekh?” Kebo Benowo terperanjat, begitu juga Loro Gempol. “Tuh, benar yang saya katakan, Gempol?” “Ya,…..” wajah Loro Gempol mendadak pucat dan cemas. “Maafkan saya, Syekh. Tidak ada maksud untuk menjelekan…” lalu memutar kepalanya, mencari wujud yang memiliki suara.
“Andika tidak akan bisa melihat saya di sana. Karena wujud saya tidak di sana.” suara Syekh Siti Jenar semakin menempel di dalam gendang telinga keduanya. “Dimanakah, Syekh?” teriak Kebo Benowo, tidak menghentikan langkahnya. Hingga keduanya telah berada di atas tangga terakhir, dalam jarak beberapa depa dari gerbang padepokan. “Itu beliau, sedang berbincang-bincang dengan Ki Ageng Pengging.” matanya terbelalak. “Lalu suara tadi?” Loro Gempol menggeleng-gelengkan kepala. “Bukankah yang berada di halaman padepokan itu Syekh Siti Jenar dan Ki Ageng pengging? Sedang bercakap-cakap. Mengapa suaranya…..” “Syekh, ketika saya sudah berada dalam tahapan ma’rifat, sangatlah sulit untuk mengungkapkannya dengan kalimat.” Kebo Kenongo berdiri dihadapan Syekh Siti Jenar. “Tadinya saya ragu, tidak bisa mencapainya.” “Ya, itulah ma’rifat.” Syekh Siti Jenar menganggukan kepala, “Terasa lebih nikmat dibanding berada pada tahapan thariqat.” “Benar, Syekh.” Kebo Kenongo menganggukan kepala, “Kenikmatan dalam ma’rifat sepertinya sangat indah.
Dunia ini terasa sangatlah kecil dan tidak berarti….” “Ma’rifat itu berada dalam alam jiwa, Ki Ageng Pengging.” Syekh Siti Jenar mengibaskan jubah hitam yang berlapis kain merah di dalamnya. “Sedangkan kita sekarang berada dalam alam jiwa dan jasad. Jasad tetap harus terbungkus pakaian dan jubah, meski bukan kepuasan, tetapi hanyalah syarat yang dinamakan kehidupan bagi orang kebanyakan. Satukanlah jiwa dan jasad itu, maka disitulah ma’rifat seutuhnya akan terwujud.” “Jadi ma’rifat yang saya alami belum utuh, Syekh?” “Tentu.” Syekh Siti Jenar menganggukan kepala. “Kita sebelum mengenal Gusti dan menuju akrab, hendaklah mengenali dulu diri sendiri. Ki Ageng Pengging, saat ini sudah masuk pada tahapan yang saya maksud.” “Jadi saya baru mengenal diri?” “Setelah itu kenalilah Gustimu, barulah akrab. Sebelum akrab ma’rifatlah seutuhnya.” terang Syekh Siti Jenar, “Satukanlah yang tercabik, genapkanlah yang ganjil, dekatkanlah yang jauh, rapatkanlah yang renggang. Hingga manunggaling kawula wujud.” “Manunggaling kawula wujud?” “Maunggaling kawula wujud, ma’rifat seutuhnya.
Tahapan orang yang mengenal dirinya, hingga berikutnya manunggaling kawula gusti. Wujud adalah jiwa, jiwa adalah jasad, jasad maujud jiwa, jiwa maujud jasad.” Syekh Siti Jenar berhenti sejenak, perlahan tubuhnya menembus pohon, lalu mengeluarkan sebelah tanganya dari dalam. “Saya berada dalam pohon, setelah itu kembali.” “Ya, Allah.” Kebo Kenongo terkagum-kagum, matanya seakan-akan tidak bisa berkedip, menyaksikan Syekh Siti Jenar yang telah keluar dari dalam batang pohon. “Betapa hebatnya ilmu yang Syekh miliki.” “Ilmu itu milik Allah. Saya adalah manusia biasa, itu hanya menjelaskan manunggaling kawula wujud. Hingga wujud ini bisa menjadi halus seperti jiwa, jiwa pun bisa keras seperti wujud.” lalu Syekh Siti Jenar duduk bersila di atas rumput hijau, tidak bergerak. Perlahan keluar satu sosok Syekh Siti Jenar lain, lalu melangkah mengitari yang sedang bersila. “Inilah jiwa, inilah jasad, maka menyatu, manunggaling kawula wujud.”
“Subhanallah…..” Kebo Kenongo terbelalak untuk kesekian kalinya, kedipun seakan-akan hilang dari kelopak matanya. “Itulah manunggaling kawula wujud. Dalam tahapan ma’rifat seutuhnya manusia bisa memisahkan jiwa dengan jasad, menyatukannya kembali. Namun itu bukanlah mati, sebab jasad yang saya lepas dalam keadaan hangat. Hanya gerak dan geriknya berada di luar.” “Lantas orang yang bisa meringankan tubuh dan mengeluarkan tenaga dalam, membuat musuh terpental, berada pada tahapan apa?” “Dalam tahapan syariat.” Syekh Siti Jenar lalu memukul batu padas seukuran kelapa, diremasnya hingga bertebaran laksana debu. Jasadiah yang dilatih akan menghasilkan kanuragan, dipadukan dengan batin keluar tenaga dalam.” lalu membuka telapak tangan dan dihentakan pada batang pohon.
Krak, patah, dan jatuh di samping Kebo Kenongo. Kebo Benowo dan Loro Gempol sama sekali tertahan menyaksikan Syekh Siti Jenar dengan ilmunya yang tinggi sangat sulit mencari bandingannya. “Harus selalukah mengeluarkan tenaga dalam dengan batin?” “Maksud batin disini bukanlah ada pada tingkatan ma’rifat, tetapi pikiran dan hati yang terfokuskan. Konsentrasi.” terang Syekh Siti Jenar, “Untuk mencapai ilmu kanuragan dan sebangsanya yang meliputi kekuatan jasadyah, tidak perlu mencapai ma’rifat.” “Termasuk hakikat dan thariqatnya?” “Benar, karena kanuragan masih berada dalam lingkar jasadyah, keangkuhan, kesombongan, emosional, semangat untuk mencari lawan, memukul, dan amarah.” “Saya paham, Syekh.” Kebo Kenongo mengangguk-anggukan kepalanya, “Meskipun sangat hebat dan sakti orang yang berada dalam tahapan ma’rifat tidak akan sewenang-wenang mempertontonkan kesaktiannya, karena segala hal dalam dirinya telah terkendali termasuk nafsunya.” “Ki Ageng Pengging, jangan melupakan kebutuhan jasad! Meski kita berasa pada tahap ma’rifat seutuhnya.” ujar Syekh Siti Jenar, “Kebutuhan jasad adalah syarat hidup, meski sebetulnya tidak makan pun tidak akan merasa lapar.
Bersambung
Friday, September 28, 2018
Syeh sitijenar vs walisongo bagian 8
Lebih dari itu dia pun seakan-akan tahu masa depan yang akan terjadi. “Baik saya atau pun Ki Ageng Pengging tidak akan melarang tindakan andika, merestui pun tidak. Merestui atau pun tidak saya dan Ki Ageng Pengging adalah bagian dari taqdir andika semua.” “Lantas?” Joyo Dento bergumam, sudah kehabisan kata-kata. Sebab semua yang akan diucapkannya sudah mereka ketahui. “Jika saya sudah tahu seperti ini mungkin tidak akan berkunjung ke padepokan ini. Cukup dari kejauhan saya minta restu.” “Andika tidak perlu menyesal datang ke padepokan ini. Karena ini adalah perjalanan lahiriyah andika selaku manusia.” Syekh Siti Jenar menatap. “Sedangkan keinginan andika untuk membangkitkan kembali kekuatan Majapahit yang telah runtuh itu pun hak andika. Ki Ageng Pengging junjungan andika tidak mau terlibat bahkan memilih sebagai petani dan hidup di pedesaan itu pun bagian dari taqdir.
Ki Ageng dan saya berbuat seperti ini karena sudah tahu apa yang akan terjadi dan teralami berikutnya.” “Saya tidak paham, Syekh.” Joyo Dento Semakin menunduk. “Namun meski pun kurang paham akan semuanya. Saya tidak akan surut untuk terus berjuang bersama yang lainnya demi kembalinya kekuasaan Majapahit. Tetapi bolehkah saya mengetahui apa yang akan terjadi pada saya dan lainnya?” “Tidak hanya andika yang terbunuh. Saya dan Ki Ageng Pengging pun akan mengalami hukuman mati.” jelas Syekh Siti Jenar dengan wajah tenang. “Kenapa? Benarkah itu? Tapi tidak mungkin saya menghentikan rencana ini, Syekh?” Joyo Dento garuk-garuk kepala, dalam benaknya muncul pemikiran antara percaya dan tidak terhadap ujaran Syekh Siti Jenar. “Bukankah Syekh ini orang sakti? Tidak bisakah menghentikan taqdir itu?”
“Sudahlah! Andika tidak perlu bertanya lagi tentang taqdir. Jalani saja ambisi dan rencana semula. Jika ingin berhenti silahkan!” “Tapi tidak mungkin saya menghentikan rencana ini. Sebab kesempatan dan peluang baik seperti sekarang hanya datang satukali, mengingat dukungan penuh Kebo Benowo juga para pejuang Majapahit yang tidak menyukai bayang-bayang kekuasaan Raden Patah.” “Sudah terjawab bukan? Apa yang saya maksudkan tadi?” “Terjawab?” Joyo Dento semakin mengkerutkan dahinya. “Dento,” ujar Kebo Kenongo lirih. “Ya, Ki Ageng.” tatapan Joyo Dento penuh pertanyaan ke arah Kebo Kenongo. “Saya mohon diri, juga Syekh Siti Jenar. Niat dan rencana saya sudah bulat untuk meruntuhkan kekuasaan Raden Patah demi kembalinya kekuatan Majapahit.” lalu perlahan bangkit dari duduknya. Joyo Dento sudah meninggalkan padepokan Syekh Siti Jenar, langkahnya pelan mulai menginjak tangga paling atas, lalu ujung kakinya yang tidak lepas dari tatapannya menurun, menginjak yang berikutnya.
Hingga akhirnya habis dan kembali ke sebuah pohon yang dijadikan tempat menambat kudanya. Sejalan dengan itu benaknya terus berpikir, mencerna setiap perkataan Syekh Siti Jenar begitu pula Kebo Kenongo. “Mereka berdua seakan-akan sudah tidak peduli pada urusan duniawi dan kekuasaan. Padahal mereka memiliki kemampuan dan ilmu yang cukup tinggi. Benar benar tidak habis pikir. Masih hidup malah berpikir dihukum mati. Kenapa bisa bilang akan kena hukuman mati? Bukankah itu ucapan seorang pengecut? Belum bertindak sudah takut pada hukuman mati yang dicap sebagai pemberontak dan mengganggu kesetabilan pemerintahan. Dia juga menyebut bahwa aku akan bertemu dengan kematian artinya kegagalan. Tidak mungkin? Bukankah aku suda memiliki strategi yang cukup hebat.
Demak Bintoro sebentar lagi akan kacau dan goncang….” Joyo Dento telah berada di atas punggung kuda, lalu tangannya memegang tali kekang. Kuda pun dicambuk hingga berlari kencang meninggalkan padepokan Syekh Siti Jenar. Seiring dengan terbukanya sayap malam, yang diawali senja teramat singkat, ditandai warna langit yang memerah laksana darah peperangan. Taubah angkara yang mengundang banjir darah, hingga menciprat di atas lapisan awan putih.
“Para wali yang saya hormati, itulah alasannya kenapa pada hari ini ada persidangan.” ujar Sunan Giri. “Haruskah kita melaporkan hal ini pada Sinuhun agar langsung mengirim prajurit ke Kademangan Bintoro untuk menangkap mereka.” timpal Sunan Muria. “Menurut hemat saya, sebaiknya kita selidiki dulu.” Sunan Kalijaga memutar pandanganya, lalu beradu tatap dengan Sunan Bonang. ‘Kanjeng, terjadi juga hal yang akan menyulitkan Syekh Siti Jenar. Rasanya perjalan waktu terlalu cepat untuk hal ini.’ batinnya. ‘Benar, Kanjeng.’ Sunan Bonang membalas tatapan Sunan Kalijaga, seraya bercakap dengan batin. ‘Cepat atau lambat itulah taqdir Syekh Siti Jenar.
Namun bukan hari ini…masih ada beberapa saat..’ “Ada apa Kanjeng Sunan Bonang dan Kanjeng Sunan Kalijaga?” tatap Sunan Giri. “Maaf, Kanjeng Sunan Giri. Saya pun sependapat dengan Kanjeng Sunan Kalijaga, alangkah lebih baiknya sebelum bertindak dan melakukan penangkapan diadakan penyelidikan terlebih dahulu.” ujar Sunan Bonang. “Saya setuju, Kanjeng.” timpal Sunan Kudus. Ucapan itu diikuti oleh para wali yang sedang bersidang. “Ki Demang,” Sunan Giri memutar pandanganya ke arah Demang Bintoro. “Itulah keputusan kami selaku para wali. Semoga Ki Demang memaklumi.” “Terimakasih, Kanjeng.” Demang Bintoro mengagukan kepala, seraya menunduk hormat. “Laporan saya telah ditanggapi dan langsung dibawa ke mahkamah persidangan para wali. Serta kami sangat memaklumi sekali atas segala putusan yang telah para wali ambil. Sehingga saya pun akan melakukan penyelidikan yang lebih mendalam, mengenai ajaran Syekh Siti Jenar yang tersebar di Kademangan. Namun dalam hal ini kami bukanlah seorang ulama dan tidak terlalu paham akan ajaran Islam. Semoga bersedia kiranya para wali mengutus seorang ulama atau siapa saja yang paham betul akan ajaran Islam, sehingga dalam mengukur kesesatan ajaran yang disebarluaskan Syekh Siti Jenar tahu batasannya.”
“Baiklah, Ki Demang.” ujar Sunan Giri, seraya memutar pandangannya pada para wali dan ulama yang berkumpul dalam persidangan di dalam masjid Demak. “Mungkin tidak wali yang pergi ke kademangan. Siapakah di antara ulama yang siap melakukan tugas ini, menyertai Ki Demang?” Keadaan hening sejenak, para wali dan ulama saling tatap satu sama lain. Etah apa yang terbersit dalam benak dan pikiran mereka masing-masing, seraya mengelus dada dan menarik napas dalam-dalam.
Sepertinya dalam hati mereka ada sesuatu yang mengganjal, seandainya Syekh Siti Jenar dan pengikutnya benar-benar menyebarkan ajaran sesat dan menyesatkan, tentu saja akan mendapat hukuman yang sangat berat. Lantas yang mereka pikirkan, tegakah berbuat seperti itu? Meski disisi lain mungkin harus juga kebenaran itu ditegakan. Lalu barometer kesalahan dan kebenaran yang berlandaskan pada apa? “Adakah yang sanggup?” suara Sunan Giri memecah keheningan. “Saya kira para ulama merasa berat hati untuk menyampaikannya, Kanjeng.” Sunan Kalijaga menatap Sunan Giri. “Bagaimana jika saya saja?” “Jangan dulu, Kanjeng!” potong Sunan Giri. “Mengapa persoalan kecil ini mesti seorang yang berpangkat wali turun tangan? Jika yang lain tidak ada yang mampu saya kira barulah wali turun tangan. Masa diantara para ulama yang hadir disini tidak ada yang sanggup?” “Mohon maaf, Kanjeng Sunan Giri.” ujar Demang Bintoro. “Mungkin saya telah merepotkan yang hadir disini. Biarlah saya saja dan ahli agama yang ada di Kademangan melakukan penyelidikan ini.
Semoga ilmu dia bisa saya andalkan, sehingga kami tidak keliru memberikan laporan. Selanjutnya saya mohon diri.” tanpa menunggu perkataan lebih lanjut dari Sunan Giri Demang Bintoro bangkit dari duduknya, setelah mengucapkan salam menghilanglah dibalik pintu masjid Demak Bintoro. ‘Bukankah tidak hari ini, Kanjeng?’ batin Sunan Bonang, matanya beradu dengan tatapan Sunan Kalijaga. ‘Ya, itulah sebuah kenyataan. Itu juga ada rentang waktu dan perjalanan bagi semuanya…..’ balas batin Sunan Kalijaga. ‘Bukankah Syekh Siti Jenar juga….’ ‘Ya, saya sangat paham akan dia…’ “Baiklah, para wali yang saya hormati. Mungkin untuk tindakan selanjutnya kita menunggu penyelidikan Ki Demang Bintoro.” Sunan Giri menutup persidangan.
“Ki Benowo,” Joyo Dento duduk di atas kursi yang berada di samping Loro Gempol, tatapan matanya menyapu wajah Kebo Benowo. “Seperti yang saya duga, ternyata benar.” “Heran?” Kebo Benowo memijit keningnya. “Mengapa Syekh Siti Jenar dan Ki Ageng Pengging tidak tertarik pada kekuasaan. Padahal kalau seandainnya kita berhasil meruntuhkan kekuasaan Raden Patah, sudah barang tentu mereka berdua akan mendapat kedudukan yang pantas. Disamping dukungan mereka yang sangat kita butuhkan dalam lingkaran perjuangan ini.” “Jangankan andika, Ki Benowo. Saya sendiri sangat kaget akan prilaku junjungan saya sendiri Ki Ageng Pengging.” ujar Joyo Dento. “Dia seakan-akan tidak peduli lagi pada tanah leluhurnya yang telah dikuasai Raden Patah, meski hampir ada keterkaitan darah. Namun Ki Ageng sendiri punya wewenang untuk menjadi penguasa, mengapa beliau rela berada dibawah bayang-bayang kekuasaan Raden Patah, yang seharusnnya kebalikannya.” “Mungkinkah Junjunganmu itu terpengaruh oleh ilmu Syekh Siti Jenar, sehingga dia tunduk dan setia sebagai pengikutnya?” timpal Loro Gempol.
“Janganlah andika berkata demikian, Gempol!” tatap Kebo Benowo. “Bukankah Syekh Siti Jenar juga guru kita dan telah mengajarkan ilmu yang kita pinta, sehingga memiliki kesaktian tak terbatas.” “Namun menurut hemat saya, mereka itu telah benar-benar mempelajari ilmu yang di anut Syekh Siti Jenar?” kerut Joyo Dento. “Bukankah kita juga mempelajari ilmu beliau?” tukas Loro Gempol, “Tapi kita tidak berlaku seperti mereka?” “Karena jiwa kita belum sempurna, Gempol.” “Maksud, Ki Benowo?” “Yang kita pelajari dari Syekh Siti Jenar bukanlah ilmu kebhatinan menuju jalan ma’rifat.
Tetapi yang kita pelajari dari beliau adalah ilmu kesaktian dan keduniawian, bagaimana kita menjadi perkasa dan penguasa.” terang Kebo Benowo. “Ya, benar itu, Ki Benowo.” Joyo Dento menganggukan kepala. “Meskipun saya hanya sebentar berada di padepokan Syekh Siti Jenar, sudah paham betul keadaan di sana. Mereka tidak memiliki ambisi untuk menjadi apa pun di dunia ini. Saya yakin mereka punya anggapan bahwa dunia ini tidak berarti apa-apa jika dibandingkan dengan kebahagiaan jiwa yang sedang mereka rasakan pada saat ini.” “Tidak masuk akal!” Loro Gempol garuk-garuk kepal. “Bukankah orang menjadi sakti dan menuntut ilmu itu demi kekuasan, harta berlimpah, dan mendapatkan perempuan-perempuan cantik?” “Sudahlah, Gempol! Kita tidak perlu ambil pusing dengan mereka. Karena kita bukan mereka, mereka bukan kita. Tujuannya pun berbeda, mereka mendapatkan ilmu demi tercapainnya ma’rifat dan kemanunggalan dengan Gusti. Sedangkan bagi kita itu semua tidak mendapatkan tempat dihati, yang harus kita dapat adalah kekuasaan negeri Demak Bintoro.” tandas Kebo Benowo. “Benar, sangat jernih pemikiran andika, Ki Benowo.” Joyo Dento mengacungkan jempolnya.
Matahari senja di langit sebelah barat tampak menyipratkan warna merah, mengubah putihnya awan menjadi jingga. Seakan-akan cipratan darah di atas serpihan kain putih. Ki Bisono, Ki Donoboyo, Ki Chantulo, Ki Pringgoboyo, Ki Ageng Tingkir dan para murid lainnya menyaksikan peristiwa itu dari ketinggian tangga yang menuju padepokan Syekh Siti Jenar. “Seperti suatu pertanda, Ki Bisono?” tatap Ki Donoboyo pada rekannya. “Namun pertanda apakah gerangan jika memang itu sebuah pertanda?” Ki Bisono mengerutkan dahinya. “Saya kira itu hal biasa, Ki.” Ki Pringgoboyo seakan tidak tertarik dengan fenomena alam tersebut. “Benar,” Ki Ageng Tingkir menimpali, namun sejenak dahinya mengkerut. “Meskipun ini sebuah kejadian biasa, bahwa setiap senja matahari akan menyipratkan warna jingga? Tetapi ada hal yang aneh….” “Maksud, Ki Ageng Tingkir?” Ki Bisono menatap. “Seperti sebuah pertanda.” “Pertanda?” para murid Syekh Siti Jenar serempak bertanya, jiwa dan pikirannya terhanyut oleh perkataan Ki Ageng Tingkir. “Tafsirkanlah dengan batin, sahabatku.” Ki Ageng Tingkir kembali menatap langit jingga. Sejenak tidak lagi ada yang berbicara, lalu semuanya mengangkat kepala mendongak ke langit.
Mata dan batinnya mulai terusik untuk menoba mentafsirkan fenomena alam yang sedang terjadi. Raga mereka seakan-akan tidak merasakan hembusan angin senja itu, semuanya berdiri laksana patung. Jasad mereka sama sekali tidak bergeming dari tempatnnya berdiri, namun jiwa dan rasa menyatu bersama batin, seraya berusaha keras membuka tabir dan membaca alam. Mereka memiliki satu tujuan mencoba menafsirkan dan menterjemah ilmu hamamayu hayuning bawana, setelah berupaya memakmurkan bumi, maka jiwa menyatu dengan bumi. Sukma meresap dengan alam, batin menembus setiap serpih dan gerak, yang ada di alam raya.
Pertautan antara alam raya dan ruh. “Ya, rasanya ini benar, Ki Ageng Tingkir.” Ki Bisono memecah keheningan. “Begitu juga yang saya rasakan, Ki Bisono.” Ki Ageng Tingkir menarik napas dalam-dalam, jasadnya mulai merasakan lagi semilir angin pegunungan. Pertautan jiwa dengan alam telah kembali pada raganya masing-masing.
“Meskipun kita bisa merasakan belumlah bisa mentafsirkan tentang pesan yang alam sampaikan.” tambah Ki Ageng Tingkir. “Benar, Ki Ageng Tingkir.” Ki Chantulo menarik napas dalam-dalam. “Meski sukma kita sanggup berkomunikasi dengan alam, bertaut, dan bergumul. Rasanya sulit untuk meterjemah dan menafsirkan sabda alam?” “Padahal kita tahu maksud alam dengan kabaran dan berita yang dibawanya?” tambah Ki Donoboyo, “…itu sebuah pertanda buruk. Namun dalam hal ini kita sangat kesulitan untuk mengurai pesan tadi.” “Meski kita tidak bisa mengurai pesan yang disampaikan alam, yang penting kita paham pada pesan yang disampaikannya.” tukas Ki Bisono, “Disamping kita pun sudah sanggup mengamalkan ilmu hamamayuning bawana yang diajarkan Syekh Siti Jenar.
Kekurangan kita kembali pada diri kita sendiri, karena tahapan kita belumlah bisa menyamai guru kita Syekh Siti Jenar.” “Ya, walau pun beliau sangat murah hati untuk memberikan ilmu apa saja yang kita pinta.” tambah Ki Ageng Tingkir, mulai melangkahkan kaki pelan, disampingnya Ki Bisono dan Ki Chantulo, yang lainnya mengikuti dibelakang. “Hanya kita yang menerimanya ternyata berat untuk mengamalkan dan menguasainya, meski pun kita secara bertahap dan berangsur-angsur sanggup menggenggamnya.” “Tidak ada salah, Ki Ageng Tingkir. Jika sekalian dalam pertemuan hari ini di aula padepokan fenomena alam yang kita lihat tadi, juga pesannya kita kemukakan kepada Syekh Siti Jenar.” ujar Ki Donoboyo. “Saya setuju, Ki.” Ki Chantulo mengangguk seraya mengacungkan ibu jarinya. “Saya juga.” begitu pun Ki Pringgoboyo dan yang lainnya menyetujui, seiring dengan langkah kakinya yang dipercepat menuju aula padepokan.
Matahari semakin merendah, perlahan menyelinap di balik punggung gunung dengan warnanya yang semakin memerah. Para murid Syekh Siti Jenar satu persatu mulai memasuki aula padepokan, dan mengambil tempat duduk masing-masing bersila di atas tikar pandan yang terhampar. “Sebentar lagi senja berganti malam.” ujar Syekh Siti Jenar, matanya menyapu setiap wajah yang duduk bersila memenuhi aula padepokan. “…warna jingga, merah darah yang menciprat di antara serpihan awan pun akan hilang…semuanya ditelan gelap malam. Tanpa cahaya, tanpa ada redup, tanpa ada remang, sama sekali dalam gelap tidak akan pernah ada yang terlihat setitik bentuk pun. Kecuali hanya warna pekat yang disebut gelap gulita.” “Sungguh hebat beliau, Ki Ageng Tingkir?” Ki Bisono berbisik pada Ki Ageng Tingkir yang duduk disampingnya.
“Benar, Ki Bisono. Baru saja kita akan bertanya tentang sabda alam dan pesannya, beliau sudah mengawali kalimat dengan yang akan kita tanyakan.” bisik Ki Ageng Tingkir, “Syekh Siti Jenar benar-benar waspada permana tinggal.” berdecak kagum. “Hamamayu hayuning bawana, yang telah andika amalkan belumlah cukup. Sehingga alam pun tidak utuh memberikan sabdanya, namun meskipun demikian andika telah sanggup menyatu dengan alam meski belum sempurna.” Syekh Siti Jenar memutar tasbih dengan tangan kirinya sambil duduk bersila, sorot matanya yang penuh wibawa seakan-akan sanggup menembus relung hati para muridnya.
Bibirnya selalu meluncurkan dzikir, istigfar, dan takbir pada setiap sela-sela perhentian bicara. “Namun tidaklah terlalu jauh, hanya tinggal satu tingkat lagi. Akhirnya andika pun akan sampai pada tingkat penyatuan dengan alam. Ketika ingin menyatu dengan setiap heningnya malam, tetesnya embun, semilirnya angin, jingganya matahari, bukan soal yang berat. Andika semua akan bisa mencapai tahapan tadi, hanya tinggal selangkah.” “Benar, Syekh.” Ki Bisono menganggukan kepala. “Namun sesungguhnya kami telah berada pada tahap rahmatan lil alaminkah atau belum, Syekh?” “Andika sebetulnya tidak harus mendapat penilaian dariku.” tatapan Syekh Siti Jenar menyapu wajah Ki Bisono yang langsung menunduk, tidak sanggup beradu tatap. “Biarlah Allah SWT. yang memberikan penilaian. Namun dalam hal ini saya hanya memberikan barometer bagi andika tentang rahmatan lil alamin atau hamamayu hayuning bawana.” “Saya pun berpikir, Syekh. Sudahkah saya ini menjadi manusia yang telah memberikan rahmat bagi alam.” Ki Bisono mengerutkan dahinya, “…atau mungkin sebaliknya hanya menjadi laknatan lil alamin.
Padahal banyak orang bilang jika dirinya sedang menebarkan rahmatan lil alamin, tetapi dalam kenyataannya mereka malah menciptakan sebuah keruksakan dan kehancuran.” “Benar, Syekh. Seperti yang dikatakan Ki Bisono, kebanyakan orang seperti itu, antara ucapan dan perbuatannya kontroversi.” tambah Ki Chantulo. “Andika tidak harus membicarakan orang lain.” Syekh Siti Jenar menghela napas dalam-dalam, “Biarlah mereka seperti itu, karena mereka berbuat demikian maka hasilnya pun akan mereka tuai pula. Namun sebaliknya, meski pun kita berusaha mengamalkan hamamayu hayuning bawana, tidaklah selalu menuai hasil baik….” “Maksud, Syekh?” para murid Syekh Siti Jenar serempak bertanya dan terkejut.
“Tidakkah andika melihat sabda alam tadi?” Syekh Siti Jenar membelokkan tatapannya melalui jendela padepokan ke arah mentari yang hampir menghilang di balik punggung gunung. “Alam memberikan pesan berdarah?” “Saya belum paham?” Ki Chantulo garuk-garuk kepala. “Artinya berujung pada kematian. Namun andika jangan takut akan kematian, sebab cepat atau pun lambat pasti akan datang.” Syekh Siti Jenar menyapu wajah murid-muridnya dengan tatapan mata tenang dan penuh wibawa, “Makanya saya ajarkan hamamayu hayuning bawana, agar memudahkan jiwa ini menyatu dengan alam dan kembali padanya. Orang takut akan kematian karena mereka menduga bahwa mati itu sangat sakit dan mengerikan.
Padahal itu semua tidak benar, mereka yang merasakan sakit akan mati karena sebuah ketakutan dan ketidaksiapan. Padahal kapan pun dan dimana pun kita bisa menemuinya. Tidak harus sakit atau menyakiti. Hal mati itu sangatlah nikmat dan menyenangkan. Karena kematian itu sesungguhnya menyatunya kembali jiwa kita pada dzat sebelumnya. Bukankah ketika kita belum lahir ke dunia ini, apalagi belum beranjak menjadi manusia dewasa yang mengerti baik dan buruk, ilmu dan akal, miskin dan kaya, senang dan duka, bukankah hal itu tidak pernah kita rasakan sebelumnya? Itulah karena kita berada dalam dzatnya, yang teramat tentram dan tidak terusik oleh sesuatu dan apa pun.” urainya. “Bukankah kematian itu banyak orang yang tidak mengharapkannya?” ujar Ki Pringgoboyo. “Ya,” Syekh Siti Jenar berhenti sejenak, “Karena mereka tidak paham dan mengerti akan kematian.” “Mungkin mereka takut mati karena terlalu sayang pada istri, anak-anak, dan jabatannya?” Ki Bisono angkat bicara, “Sehingga dirinya diliputi rasa takut akan meninggalkan orang-orang yang dicintainya, serta harta benda dan kedudukannya.
Akhirnya mati itu dibuatnya menjadi sesuatu yang menakutkan dan menyakitkan, Syekh.” “Andika tidak salah, Ki Bisono.” Syekh Siti Jenar menyapa wajah Ki Bisono dengan sorot matanya yang teduh dan tenang. “Terlalu mencintai kehidupan duniawi, yang bersifat fana dan sejenak. Lalu mereka lupa pada kehidupan hakiki, kehidupan yang sesungguhnya, setelah melewati pintu mati. Padahal kematian itu hanyalah sebuah pintu menuju keabadian yang didalamnya bisa berbalut dengan kenikmatan, penderitaan, kesedihan, tawa, duka, nestapa, itu semua tergantung kita menanamnya pada kehidupan sebelumnya, yaitu di dunia ini. Hasil pekerjaan apa pun yang pernah kita perbuat di dunia fana ini akan kembali kita tuai dan nikmati di alam sana.
Bisa bermacam-macam. Namun bagi kita yang mempelajari hamamayu hayuning bawana tidaklah seperti itu. Apalagi kematian itu bukanlah suatu hal yang menakutkan apalagi menyakitkan, tetapi kematian itu sesuatu yang teramat indah dan menyenangkan. Jika mereka tidak bisa menemui ajal kapan pun dan dimana pun, tetapi kita sebaliknya.” “Bisakah kita menentukan ajal sendiri? Setidaknya mengetahui datangnya ajal?” tanya Ki Bisono. “Tentu saja. Karena kita berbeda dengan orang kebanyakan yang tidak mengetahui sama sekali akan ilmu hamamayu hayuning bawana.” Syekh Siti Jenar menghela napas sejenak, “Bukankah telah saya katakan bahwa ketika kita berada pada tahapan ma’rifat semuanya menjadi tampak. Lalu kita berada dalam akrab. Setelah itu barulah manunggaling kawula gusti.” “Ya, saya telah merasakannya pada tahapan ma’rifat. Semuanya jadi tampak, tetapi saya kesulitan menuju tahapan akrab dan manunggaling kawula gusti.” Kebo Kenongo berucap, “Meski pun demikian saya sedang berupaya menuju ke tahap yang ingin saya capai.”
Bersambung
Ki Ageng dan saya berbuat seperti ini karena sudah tahu apa yang akan terjadi dan teralami berikutnya.” “Saya tidak paham, Syekh.” Joyo Dento Semakin menunduk. “Namun meski pun kurang paham akan semuanya. Saya tidak akan surut untuk terus berjuang bersama yang lainnya demi kembalinya kekuasaan Majapahit. Tetapi bolehkah saya mengetahui apa yang akan terjadi pada saya dan lainnya?” “Tidak hanya andika yang terbunuh. Saya dan Ki Ageng Pengging pun akan mengalami hukuman mati.” jelas Syekh Siti Jenar dengan wajah tenang. “Kenapa? Benarkah itu? Tapi tidak mungkin saya menghentikan rencana ini, Syekh?” Joyo Dento garuk-garuk kepala, dalam benaknya muncul pemikiran antara percaya dan tidak terhadap ujaran Syekh Siti Jenar. “Bukankah Syekh ini orang sakti? Tidak bisakah menghentikan taqdir itu?”
“Sudahlah! Andika tidak perlu bertanya lagi tentang taqdir. Jalani saja ambisi dan rencana semula. Jika ingin berhenti silahkan!” “Tapi tidak mungkin saya menghentikan rencana ini. Sebab kesempatan dan peluang baik seperti sekarang hanya datang satukali, mengingat dukungan penuh Kebo Benowo juga para pejuang Majapahit yang tidak menyukai bayang-bayang kekuasaan Raden Patah.” “Sudah terjawab bukan? Apa yang saya maksudkan tadi?” “Terjawab?” Joyo Dento semakin mengkerutkan dahinya. “Dento,” ujar Kebo Kenongo lirih. “Ya, Ki Ageng.” tatapan Joyo Dento penuh pertanyaan ke arah Kebo Kenongo. “Saya mohon diri, juga Syekh Siti Jenar. Niat dan rencana saya sudah bulat untuk meruntuhkan kekuasaan Raden Patah demi kembalinya kekuatan Majapahit.” lalu perlahan bangkit dari duduknya. Joyo Dento sudah meninggalkan padepokan Syekh Siti Jenar, langkahnya pelan mulai menginjak tangga paling atas, lalu ujung kakinya yang tidak lepas dari tatapannya menurun, menginjak yang berikutnya.
Hingga akhirnya habis dan kembali ke sebuah pohon yang dijadikan tempat menambat kudanya. Sejalan dengan itu benaknya terus berpikir, mencerna setiap perkataan Syekh Siti Jenar begitu pula Kebo Kenongo. “Mereka berdua seakan-akan sudah tidak peduli pada urusan duniawi dan kekuasaan. Padahal mereka memiliki kemampuan dan ilmu yang cukup tinggi. Benar benar tidak habis pikir. Masih hidup malah berpikir dihukum mati. Kenapa bisa bilang akan kena hukuman mati? Bukankah itu ucapan seorang pengecut? Belum bertindak sudah takut pada hukuman mati yang dicap sebagai pemberontak dan mengganggu kesetabilan pemerintahan. Dia juga menyebut bahwa aku akan bertemu dengan kematian artinya kegagalan. Tidak mungkin? Bukankah aku suda memiliki strategi yang cukup hebat.
Demak Bintoro sebentar lagi akan kacau dan goncang….” Joyo Dento telah berada di atas punggung kuda, lalu tangannya memegang tali kekang. Kuda pun dicambuk hingga berlari kencang meninggalkan padepokan Syekh Siti Jenar. Seiring dengan terbukanya sayap malam, yang diawali senja teramat singkat, ditandai warna langit yang memerah laksana darah peperangan. Taubah angkara yang mengundang banjir darah, hingga menciprat di atas lapisan awan putih.
“Para wali yang saya hormati, itulah alasannya kenapa pada hari ini ada persidangan.” ujar Sunan Giri. “Haruskah kita melaporkan hal ini pada Sinuhun agar langsung mengirim prajurit ke Kademangan Bintoro untuk menangkap mereka.” timpal Sunan Muria. “Menurut hemat saya, sebaiknya kita selidiki dulu.” Sunan Kalijaga memutar pandanganya, lalu beradu tatap dengan Sunan Bonang. ‘Kanjeng, terjadi juga hal yang akan menyulitkan Syekh Siti Jenar. Rasanya perjalan waktu terlalu cepat untuk hal ini.’ batinnya. ‘Benar, Kanjeng.’ Sunan Bonang membalas tatapan Sunan Kalijaga, seraya bercakap dengan batin. ‘Cepat atau lambat itulah taqdir Syekh Siti Jenar.
Namun bukan hari ini…masih ada beberapa saat..’ “Ada apa Kanjeng Sunan Bonang dan Kanjeng Sunan Kalijaga?” tatap Sunan Giri. “Maaf, Kanjeng Sunan Giri. Saya pun sependapat dengan Kanjeng Sunan Kalijaga, alangkah lebih baiknya sebelum bertindak dan melakukan penangkapan diadakan penyelidikan terlebih dahulu.” ujar Sunan Bonang. “Saya setuju, Kanjeng.” timpal Sunan Kudus. Ucapan itu diikuti oleh para wali yang sedang bersidang. “Ki Demang,” Sunan Giri memutar pandanganya ke arah Demang Bintoro. “Itulah keputusan kami selaku para wali. Semoga Ki Demang memaklumi.” “Terimakasih, Kanjeng.” Demang Bintoro mengagukan kepala, seraya menunduk hormat. “Laporan saya telah ditanggapi dan langsung dibawa ke mahkamah persidangan para wali. Serta kami sangat memaklumi sekali atas segala putusan yang telah para wali ambil. Sehingga saya pun akan melakukan penyelidikan yang lebih mendalam, mengenai ajaran Syekh Siti Jenar yang tersebar di Kademangan. Namun dalam hal ini kami bukanlah seorang ulama dan tidak terlalu paham akan ajaran Islam. Semoga bersedia kiranya para wali mengutus seorang ulama atau siapa saja yang paham betul akan ajaran Islam, sehingga dalam mengukur kesesatan ajaran yang disebarluaskan Syekh Siti Jenar tahu batasannya.”
“Baiklah, Ki Demang.” ujar Sunan Giri, seraya memutar pandangannya pada para wali dan ulama yang berkumpul dalam persidangan di dalam masjid Demak. “Mungkin tidak wali yang pergi ke kademangan. Siapakah di antara ulama yang siap melakukan tugas ini, menyertai Ki Demang?” Keadaan hening sejenak, para wali dan ulama saling tatap satu sama lain. Etah apa yang terbersit dalam benak dan pikiran mereka masing-masing, seraya mengelus dada dan menarik napas dalam-dalam.
Sepertinya dalam hati mereka ada sesuatu yang mengganjal, seandainya Syekh Siti Jenar dan pengikutnya benar-benar menyebarkan ajaran sesat dan menyesatkan, tentu saja akan mendapat hukuman yang sangat berat. Lantas yang mereka pikirkan, tegakah berbuat seperti itu? Meski disisi lain mungkin harus juga kebenaran itu ditegakan. Lalu barometer kesalahan dan kebenaran yang berlandaskan pada apa? “Adakah yang sanggup?” suara Sunan Giri memecah keheningan. “Saya kira para ulama merasa berat hati untuk menyampaikannya, Kanjeng.” Sunan Kalijaga menatap Sunan Giri. “Bagaimana jika saya saja?” “Jangan dulu, Kanjeng!” potong Sunan Giri. “Mengapa persoalan kecil ini mesti seorang yang berpangkat wali turun tangan? Jika yang lain tidak ada yang mampu saya kira barulah wali turun tangan. Masa diantara para ulama yang hadir disini tidak ada yang sanggup?” “Mohon maaf, Kanjeng Sunan Giri.” ujar Demang Bintoro. “Mungkin saya telah merepotkan yang hadir disini. Biarlah saya saja dan ahli agama yang ada di Kademangan melakukan penyelidikan ini.
Semoga ilmu dia bisa saya andalkan, sehingga kami tidak keliru memberikan laporan. Selanjutnya saya mohon diri.” tanpa menunggu perkataan lebih lanjut dari Sunan Giri Demang Bintoro bangkit dari duduknya, setelah mengucapkan salam menghilanglah dibalik pintu masjid Demak Bintoro. ‘Bukankah tidak hari ini, Kanjeng?’ batin Sunan Bonang, matanya beradu dengan tatapan Sunan Kalijaga. ‘Ya, itulah sebuah kenyataan. Itu juga ada rentang waktu dan perjalanan bagi semuanya…..’ balas batin Sunan Kalijaga. ‘Bukankah Syekh Siti Jenar juga….’ ‘Ya, saya sangat paham akan dia…’ “Baiklah, para wali yang saya hormati. Mungkin untuk tindakan selanjutnya kita menunggu penyelidikan Ki Demang Bintoro.” Sunan Giri menutup persidangan.
“Ki Benowo,” Joyo Dento duduk di atas kursi yang berada di samping Loro Gempol, tatapan matanya menyapu wajah Kebo Benowo. “Seperti yang saya duga, ternyata benar.” “Heran?” Kebo Benowo memijit keningnya. “Mengapa Syekh Siti Jenar dan Ki Ageng Pengging tidak tertarik pada kekuasaan. Padahal kalau seandainnya kita berhasil meruntuhkan kekuasaan Raden Patah, sudah barang tentu mereka berdua akan mendapat kedudukan yang pantas. Disamping dukungan mereka yang sangat kita butuhkan dalam lingkaran perjuangan ini.” “Jangankan andika, Ki Benowo. Saya sendiri sangat kaget akan prilaku junjungan saya sendiri Ki Ageng Pengging.” ujar Joyo Dento. “Dia seakan-akan tidak peduli lagi pada tanah leluhurnya yang telah dikuasai Raden Patah, meski hampir ada keterkaitan darah. Namun Ki Ageng sendiri punya wewenang untuk menjadi penguasa, mengapa beliau rela berada dibawah bayang-bayang kekuasaan Raden Patah, yang seharusnnya kebalikannya.” “Mungkinkah Junjunganmu itu terpengaruh oleh ilmu Syekh Siti Jenar, sehingga dia tunduk dan setia sebagai pengikutnya?” timpal Loro Gempol.
“Janganlah andika berkata demikian, Gempol!” tatap Kebo Benowo. “Bukankah Syekh Siti Jenar juga guru kita dan telah mengajarkan ilmu yang kita pinta, sehingga memiliki kesaktian tak terbatas.” “Namun menurut hemat saya, mereka itu telah benar-benar mempelajari ilmu yang di anut Syekh Siti Jenar?” kerut Joyo Dento. “Bukankah kita juga mempelajari ilmu beliau?” tukas Loro Gempol, “Tapi kita tidak berlaku seperti mereka?” “Karena jiwa kita belum sempurna, Gempol.” “Maksud, Ki Benowo?” “Yang kita pelajari dari Syekh Siti Jenar bukanlah ilmu kebhatinan menuju jalan ma’rifat.
Tetapi yang kita pelajari dari beliau adalah ilmu kesaktian dan keduniawian, bagaimana kita menjadi perkasa dan penguasa.” terang Kebo Benowo. “Ya, benar itu, Ki Benowo.” Joyo Dento menganggukan kepala. “Meskipun saya hanya sebentar berada di padepokan Syekh Siti Jenar, sudah paham betul keadaan di sana. Mereka tidak memiliki ambisi untuk menjadi apa pun di dunia ini. Saya yakin mereka punya anggapan bahwa dunia ini tidak berarti apa-apa jika dibandingkan dengan kebahagiaan jiwa yang sedang mereka rasakan pada saat ini.” “Tidak masuk akal!” Loro Gempol garuk-garuk kepal. “Bukankah orang menjadi sakti dan menuntut ilmu itu demi kekuasan, harta berlimpah, dan mendapatkan perempuan-perempuan cantik?” “Sudahlah, Gempol! Kita tidak perlu ambil pusing dengan mereka. Karena kita bukan mereka, mereka bukan kita. Tujuannya pun berbeda, mereka mendapatkan ilmu demi tercapainnya ma’rifat dan kemanunggalan dengan Gusti. Sedangkan bagi kita itu semua tidak mendapatkan tempat dihati, yang harus kita dapat adalah kekuasaan negeri Demak Bintoro.” tandas Kebo Benowo. “Benar, sangat jernih pemikiran andika, Ki Benowo.” Joyo Dento mengacungkan jempolnya.
Matahari senja di langit sebelah barat tampak menyipratkan warna merah, mengubah putihnya awan menjadi jingga. Seakan-akan cipratan darah di atas serpihan kain putih. Ki Bisono, Ki Donoboyo, Ki Chantulo, Ki Pringgoboyo, Ki Ageng Tingkir dan para murid lainnya menyaksikan peristiwa itu dari ketinggian tangga yang menuju padepokan Syekh Siti Jenar. “Seperti suatu pertanda, Ki Bisono?” tatap Ki Donoboyo pada rekannya. “Namun pertanda apakah gerangan jika memang itu sebuah pertanda?” Ki Bisono mengerutkan dahinya. “Saya kira itu hal biasa, Ki.” Ki Pringgoboyo seakan tidak tertarik dengan fenomena alam tersebut. “Benar,” Ki Ageng Tingkir menimpali, namun sejenak dahinya mengkerut. “Meskipun ini sebuah kejadian biasa, bahwa setiap senja matahari akan menyipratkan warna jingga? Tetapi ada hal yang aneh….” “Maksud, Ki Ageng Tingkir?” Ki Bisono menatap. “Seperti sebuah pertanda.” “Pertanda?” para murid Syekh Siti Jenar serempak bertanya, jiwa dan pikirannya terhanyut oleh perkataan Ki Ageng Tingkir. “Tafsirkanlah dengan batin, sahabatku.” Ki Ageng Tingkir kembali menatap langit jingga. Sejenak tidak lagi ada yang berbicara, lalu semuanya mengangkat kepala mendongak ke langit.
Mata dan batinnya mulai terusik untuk menoba mentafsirkan fenomena alam yang sedang terjadi. Raga mereka seakan-akan tidak merasakan hembusan angin senja itu, semuanya berdiri laksana patung. Jasad mereka sama sekali tidak bergeming dari tempatnnya berdiri, namun jiwa dan rasa menyatu bersama batin, seraya berusaha keras membuka tabir dan membaca alam. Mereka memiliki satu tujuan mencoba menafsirkan dan menterjemah ilmu hamamayu hayuning bawana, setelah berupaya memakmurkan bumi, maka jiwa menyatu dengan bumi. Sukma meresap dengan alam, batin menembus setiap serpih dan gerak, yang ada di alam raya.
Pertautan antara alam raya dan ruh. “Ya, rasanya ini benar, Ki Ageng Tingkir.” Ki Bisono memecah keheningan. “Begitu juga yang saya rasakan, Ki Bisono.” Ki Ageng Tingkir menarik napas dalam-dalam, jasadnya mulai merasakan lagi semilir angin pegunungan. Pertautan jiwa dengan alam telah kembali pada raganya masing-masing.
“Meskipun kita bisa merasakan belumlah bisa mentafsirkan tentang pesan yang alam sampaikan.” tambah Ki Ageng Tingkir. “Benar, Ki Ageng Tingkir.” Ki Chantulo menarik napas dalam-dalam. “Meski sukma kita sanggup berkomunikasi dengan alam, bertaut, dan bergumul. Rasanya sulit untuk meterjemah dan menafsirkan sabda alam?” “Padahal kita tahu maksud alam dengan kabaran dan berita yang dibawanya?” tambah Ki Donoboyo, “…itu sebuah pertanda buruk. Namun dalam hal ini kita sangat kesulitan untuk mengurai pesan tadi.” “Meski kita tidak bisa mengurai pesan yang disampaikan alam, yang penting kita paham pada pesan yang disampaikannya.” tukas Ki Bisono, “Disamping kita pun sudah sanggup mengamalkan ilmu hamamayuning bawana yang diajarkan Syekh Siti Jenar.
Kekurangan kita kembali pada diri kita sendiri, karena tahapan kita belumlah bisa menyamai guru kita Syekh Siti Jenar.” “Ya, walau pun beliau sangat murah hati untuk memberikan ilmu apa saja yang kita pinta.” tambah Ki Ageng Tingkir, mulai melangkahkan kaki pelan, disampingnya Ki Bisono dan Ki Chantulo, yang lainnya mengikuti dibelakang. “Hanya kita yang menerimanya ternyata berat untuk mengamalkan dan menguasainya, meski pun kita secara bertahap dan berangsur-angsur sanggup menggenggamnya.” “Tidak ada salah, Ki Ageng Tingkir. Jika sekalian dalam pertemuan hari ini di aula padepokan fenomena alam yang kita lihat tadi, juga pesannya kita kemukakan kepada Syekh Siti Jenar.” ujar Ki Donoboyo. “Saya setuju, Ki.” Ki Chantulo mengangguk seraya mengacungkan ibu jarinya. “Saya juga.” begitu pun Ki Pringgoboyo dan yang lainnya menyetujui, seiring dengan langkah kakinya yang dipercepat menuju aula padepokan.
Matahari semakin merendah, perlahan menyelinap di balik punggung gunung dengan warnanya yang semakin memerah. Para murid Syekh Siti Jenar satu persatu mulai memasuki aula padepokan, dan mengambil tempat duduk masing-masing bersila di atas tikar pandan yang terhampar. “Sebentar lagi senja berganti malam.” ujar Syekh Siti Jenar, matanya menyapu setiap wajah yang duduk bersila memenuhi aula padepokan. “…warna jingga, merah darah yang menciprat di antara serpihan awan pun akan hilang…semuanya ditelan gelap malam. Tanpa cahaya, tanpa ada redup, tanpa ada remang, sama sekali dalam gelap tidak akan pernah ada yang terlihat setitik bentuk pun. Kecuali hanya warna pekat yang disebut gelap gulita.” “Sungguh hebat beliau, Ki Ageng Tingkir?” Ki Bisono berbisik pada Ki Ageng Tingkir yang duduk disampingnya.
“Benar, Ki Bisono. Baru saja kita akan bertanya tentang sabda alam dan pesannya, beliau sudah mengawali kalimat dengan yang akan kita tanyakan.” bisik Ki Ageng Tingkir, “Syekh Siti Jenar benar-benar waspada permana tinggal.” berdecak kagum. “Hamamayu hayuning bawana, yang telah andika amalkan belumlah cukup. Sehingga alam pun tidak utuh memberikan sabdanya, namun meskipun demikian andika telah sanggup menyatu dengan alam meski belum sempurna.” Syekh Siti Jenar memutar tasbih dengan tangan kirinya sambil duduk bersila, sorot matanya yang penuh wibawa seakan-akan sanggup menembus relung hati para muridnya.
Bibirnya selalu meluncurkan dzikir, istigfar, dan takbir pada setiap sela-sela perhentian bicara. “Namun tidaklah terlalu jauh, hanya tinggal satu tingkat lagi. Akhirnya andika pun akan sampai pada tingkat penyatuan dengan alam. Ketika ingin menyatu dengan setiap heningnya malam, tetesnya embun, semilirnya angin, jingganya matahari, bukan soal yang berat. Andika semua akan bisa mencapai tahapan tadi, hanya tinggal selangkah.” “Benar, Syekh.” Ki Bisono menganggukan kepala. “Namun sesungguhnya kami telah berada pada tahap rahmatan lil alaminkah atau belum, Syekh?” “Andika sebetulnya tidak harus mendapat penilaian dariku.” tatapan Syekh Siti Jenar menyapu wajah Ki Bisono yang langsung menunduk, tidak sanggup beradu tatap. “Biarlah Allah SWT. yang memberikan penilaian. Namun dalam hal ini saya hanya memberikan barometer bagi andika tentang rahmatan lil alamin atau hamamayu hayuning bawana.” “Saya pun berpikir, Syekh. Sudahkah saya ini menjadi manusia yang telah memberikan rahmat bagi alam.” Ki Bisono mengerutkan dahinya, “…atau mungkin sebaliknya hanya menjadi laknatan lil alamin.
Padahal banyak orang bilang jika dirinya sedang menebarkan rahmatan lil alamin, tetapi dalam kenyataannya mereka malah menciptakan sebuah keruksakan dan kehancuran.” “Benar, Syekh. Seperti yang dikatakan Ki Bisono, kebanyakan orang seperti itu, antara ucapan dan perbuatannya kontroversi.” tambah Ki Chantulo. “Andika tidak harus membicarakan orang lain.” Syekh Siti Jenar menghela napas dalam-dalam, “Biarlah mereka seperti itu, karena mereka berbuat demikian maka hasilnya pun akan mereka tuai pula. Namun sebaliknya, meski pun kita berusaha mengamalkan hamamayu hayuning bawana, tidaklah selalu menuai hasil baik….” “Maksud, Syekh?” para murid Syekh Siti Jenar serempak bertanya dan terkejut.
“Tidakkah andika melihat sabda alam tadi?” Syekh Siti Jenar membelokkan tatapannya melalui jendela padepokan ke arah mentari yang hampir menghilang di balik punggung gunung. “Alam memberikan pesan berdarah?” “Saya belum paham?” Ki Chantulo garuk-garuk kepala. “Artinya berujung pada kematian. Namun andika jangan takut akan kematian, sebab cepat atau pun lambat pasti akan datang.” Syekh Siti Jenar menyapu wajah murid-muridnya dengan tatapan mata tenang dan penuh wibawa, “Makanya saya ajarkan hamamayu hayuning bawana, agar memudahkan jiwa ini menyatu dengan alam dan kembali padanya. Orang takut akan kematian karena mereka menduga bahwa mati itu sangat sakit dan mengerikan.
Padahal itu semua tidak benar, mereka yang merasakan sakit akan mati karena sebuah ketakutan dan ketidaksiapan. Padahal kapan pun dan dimana pun kita bisa menemuinya. Tidak harus sakit atau menyakiti. Hal mati itu sangatlah nikmat dan menyenangkan. Karena kematian itu sesungguhnya menyatunya kembali jiwa kita pada dzat sebelumnya. Bukankah ketika kita belum lahir ke dunia ini, apalagi belum beranjak menjadi manusia dewasa yang mengerti baik dan buruk, ilmu dan akal, miskin dan kaya, senang dan duka, bukankah hal itu tidak pernah kita rasakan sebelumnya? Itulah karena kita berada dalam dzatnya, yang teramat tentram dan tidak terusik oleh sesuatu dan apa pun.” urainya. “Bukankah kematian itu banyak orang yang tidak mengharapkannya?” ujar Ki Pringgoboyo. “Ya,” Syekh Siti Jenar berhenti sejenak, “Karena mereka tidak paham dan mengerti akan kematian.” “Mungkin mereka takut mati karena terlalu sayang pada istri, anak-anak, dan jabatannya?” Ki Bisono angkat bicara, “Sehingga dirinya diliputi rasa takut akan meninggalkan orang-orang yang dicintainya, serta harta benda dan kedudukannya.
Akhirnya mati itu dibuatnya menjadi sesuatu yang menakutkan dan menyakitkan, Syekh.” “Andika tidak salah, Ki Bisono.” Syekh Siti Jenar menyapa wajah Ki Bisono dengan sorot matanya yang teduh dan tenang. “Terlalu mencintai kehidupan duniawi, yang bersifat fana dan sejenak. Lalu mereka lupa pada kehidupan hakiki, kehidupan yang sesungguhnya, setelah melewati pintu mati. Padahal kematian itu hanyalah sebuah pintu menuju keabadian yang didalamnya bisa berbalut dengan kenikmatan, penderitaan, kesedihan, tawa, duka, nestapa, itu semua tergantung kita menanamnya pada kehidupan sebelumnya, yaitu di dunia ini. Hasil pekerjaan apa pun yang pernah kita perbuat di dunia fana ini akan kembali kita tuai dan nikmati di alam sana.
Bisa bermacam-macam. Namun bagi kita yang mempelajari hamamayu hayuning bawana tidaklah seperti itu. Apalagi kematian itu bukanlah suatu hal yang menakutkan apalagi menyakitkan, tetapi kematian itu sesuatu yang teramat indah dan menyenangkan. Jika mereka tidak bisa menemui ajal kapan pun dan dimana pun, tetapi kita sebaliknya.” “Bisakah kita menentukan ajal sendiri? Setidaknya mengetahui datangnya ajal?” tanya Ki Bisono. “Tentu saja. Karena kita berbeda dengan orang kebanyakan yang tidak mengetahui sama sekali akan ilmu hamamayu hayuning bawana.” Syekh Siti Jenar menghela napas sejenak, “Bukankah telah saya katakan bahwa ketika kita berada pada tahapan ma’rifat semuanya menjadi tampak. Lalu kita berada dalam akrab. Setelah itu barulah manunggaling kawula gusti.” “Ya, saya telah merasakannya pada tahapan ma’rifat. Semuanya jadi tampak, tetapi saya kesulitan menuju tahapan akrab dan manunggaling kawula gusti.” Kebo Kenongo berucap, “Meski pun demikian saya sedang berupaya menuju ke tahap yang ingin saya capai.”
Bersambung
Syeh sitijenar vs walosongo bagian 7
Nah, untuk menyeimbangkan itulah yang sangat sulit.” “Sebetulnya kita tidak perlu seimbang dulu. Namun itu terlalu berat untuk kebanyakan orang dan tidak mungkin dapat tercapai. Sebab bagi yang telah ma’rifat dan akrab tidak perlu jauh melangkah tinggal mengatakannya, apa yang diinginkan akan datang atau berada dalam genggaman.” terang Syekh Siti Jenar, lantas membuka telapak tangannya dan diacungkan ke langit, lalu dikepalkan. “…lihatlah! Inikah yang Ki Ageng inginkan?” “Benar, Syekh. Andika selain bisa membaca keinginan batin saya juga dapat membuktikannya hanya dengan mengepalkan tangan.” Kebo Kenongo menggeleng-gelengkan kepala, seraya memujinya. *** “Sudahkah andika menemukan cara yang tepat untuk menguasai Demak?” Loro Gempol menatap wajah Kebo Benowo.
“Meski saya telah berkali-kali memikirkannya belum juga menemukan cara yang tepat, Gempol.” Kebo Benowo menempelkan telunjuk dikeningnya. Lalu bangkit dari duduknya, menggendong kedua tangannya dibelakang, dahinya berkerut-kerut, kakinya melangkah pelan. “….bagaimana…cara termudah?” “Bolehkah saya berbicara?” Joyo Dento mengangkat kepalanya. “Apa yang akan andika katakan, Dento? Bantulah saya berpikir!” tatap Kebo Benowo. “Menurut hemat saya, negara Demak Bintoro kini dalam keadaan tenang dan tentram. Namun bukan berarti ketenangan ini tidak bisa diusik.” “Semua orang tahu! Apa maksud andika!” timpal Loro Gempol meninggi. “Mohon maaf, Ki Gempol. Bukankah saya belum selesai bicara?” “Lanjutkan, Dento!” ujar Kebo Benowo mengacungkan telapak tangannya, seraya menatap Loro Ge,pol agar memberi kesempatan bicara pada Joyo Dento. “Negeri Demak Bintoro kini dalam keadaan tenang dan tentram. Sangat sulit bagi kita untuk melakukan pemberontakan apalagi penggulingan kekuasaan.
Namun bukan berarti suasana tenang dan tentram ini tidak bisa diubah, menjadi kacau balau dan carut marut.” Joyo Dento berhenti sejenak, matanya merayap mengelilingi ruang pertemuan. Kembali tatapannya tertuju pada Kebo Benowo. “Maksud andika?” Loro Gempol tidak sabar. “Maksud saya, untuk merubah suasana tenang dan tentram ini harus menciptakan keadaan sebaliknya.” “Mengacau ketenangan masyarakat?” tatap Kebo Benowo. “Jika itu dilakukan berarti tindakan kita untuk menggulingkan Raden Patah tidak akan berhasil, bahkan akan mendapat kecaman dari rakyat. Karena mereka tahu bahwa kita pengacau.
Sedangkan yang kita harapkan dukungan rakyat, yang membetulkan tindakan kudeta. Jadi pada intinya tindakan kita harus mendapat simpati dari rakyat.” “Benar, maksud saya itu.” ujar joyo Dento. “Maksud andika jelas salah, Dento! Tidakah andika membayangkan jika kita merampok rakyat, mengganggu rakyat, sebaliknya mereka akan lebih simpati pada Sultan.” sela Loro Gempol. “Tentu, jika kita salah dalam melakukan tindakan.” terang Joyo Dento. “Saya meskipun sehari-hari berada di pasar dan melakukan perbuatan sabung ayam, hanya untuk melampiaskan hobi saja. Andika belum paham jika saya dulu pernah mengabdi di Kadipaten Majapahit. Bahkan saya pun banyak belajar tentang politik dan ketatanegaraan.
Namun orang-orang Majapahit kini tidak mau lagi memperlihatkan diri dan merasa antipati terhadap Raja Demak Bintoro, karena membaca kekuatan sendiri. Jika melakukan hal tadi berarti akan ditangkap, termasuk Ki Ageng Pengging, beliau lebih memilih hidup menjadi seorang petani, dengan nama lain.” Mendengar uraian Joyo Dento yang membuka jatidirinya dan mengurai keahliannya, Kebo Benowo, Loro Gempol, Lego Benongo, juga seluruh peserta sidang pada kesempatan itu terkagum-kagum. “Pantas saja, andika berbeda.” Kebo Benowo menggelengkan kepala. “Jika demikian lanjutkanlah rencana dan dasar pemikiran andika. Andika mulai hari ini saya angkat sebagi penasehat saya dan yang lainnya.”
“Terimakasih, Ki Benowo.” Joyo Dento menghela napas, “Saya sebetulnya sejak dulu mencari teman dan orang yang ingin melakukan pemberontakan, sekaligus penggulingan kekuasaan terhadap Raden Patah. Namun kini saya baru menemukan orang yang benar-benar punya niat dan tujuan yang sama dengan saya. Jadi tidak ada salahnya jika saya pun mendukung gerakan ini.” “Kita tidak salah bergabung, Dento.” ujar Kebo Benowo.
“Hanya sayang, yang semestinnya Ki Ageng Pengging yang harus maju dan bergabung dengan kita sama sekali tidak tertarik. Ki Ageng Pengging sesungguhnya memiliki darah biru yang sangat kuat, karena beliau keturunan raja Majapahit.” Joyo Dento berhenti sejenak, “Namun meski pun demikian andikalah yang ternyata berani maju, Ki Benowo. Tidak ada salahnya, saya akan mendukung. Hanya dalam hal ini kita harus punya strategi yang tepat. Seperti yang saya uraikan pertama kali.” ”Ya, tentang pembicaraan semula. Lanjutkan apa rencana tadi?” pinta Kebo Benowo. “Baiklah,” ujar Joyo Dento.
”Dengarkan para pengemis!” teriak Kebo Benowo, matanya menyapu para pengemis yang bersila di pinggir jalan menuju pasar. “Kenapa andika semua mesti jadi pengemis? Tidak inginkah hidup mewah seperti para penduduk kota Demak Bintoro? Tidak inginkah kalian menjadi orang kaya, seperti para pejabat negara? Bukankah mereka itu manusia seperti kita? Harus sadar pula bahwa kita pun memiliki hak yang sama seperti mereka. Tidak sadarkah jika para pejabat Negeri Demak telah mendzalimi kalian semua? Membiarkan kalian terlantar dipinggiran jalan. Sementara mereka bersenang- senang di pusat kota Demak Bintoro.
Tidak sadarkah bahwa mereka telah melupakan kita selaku rakyat? Mereka telah menelantarkan kita dalam lingkaran kemiskinan dan penderitaan. Kalian harus paham akan semua itu. Sesungguhnya hak kalian telah dirampas oleh mereka.” “Jadi kami mesti bagaimana, Ki? Sedangkan kami pun tidak ingin menjadi orang miskin.” ujar seorang pengemis paruhbaya. “Ingatlah, bahwa kalian memiliki hak yang sama seperti para penguasa negeri ini. Mintalah hak kalian!” ujar Kebo Benowo. “Tidak mungkin? Mustahil keinginan kita dikabulkan oleh para penguasa dzalim yang tidak peduli akan nasib rakyatnya, yang miskin seperti kami.” ujar si pengemis paruhbaya. “Jika tidak mungkin menurut kalian, tidak perlu menyesal dengan nasib yang dialami.
Karena kehidupan dunia ini hanyalah sekejap, setelah itu kita akan mati. Untuk itu biarkanlah mereka itu menikmati hidupnya sebagai penguasa, karena mereka hanyalah mayat-mayat hidup yang menunggu kematian. Sedangkan kematian merupakan pertemuan kita dengan Sang Pencipta, untuk menemui kenikmatan yang abadi.” urai Kebo Benowo. “Benarkah kematian itu merupakan kenikmatan yang abadi dibandingkan dengan para penguasa yang sekarang sedang menikmati kesenangan?” kerut pengemis paruhbaya. “Benar, karena mereka pun akan mati. Setelah mati maka ditangisi oleh keluarganya, lalu harta yang mereka agung-agungkan ditinggalkan untuk diperebutkan oleh keturunannya. Jadi apa artinya harta kekayaan juga kekuasaan. Toh, kita pun akan mati dan meninggalkan semua kesenangan duniawi yang bersifat sekejap.
Bayangkanlah kesenangan setelah kematian. Bukankah nenek moyang kalian tidak pernah ingin kembali ke dunia ini dari kuburnya? Mengapa demikian? Karena mereka menikmati kematian yang teramat menyenangkan dan menentramkan.” Kebo Benowo yang memahami secara dangkal ajaran Syekh Siti Jenar, mencoba mengurai sesuka hatinya. “Benar juga yang andika katakan, Ki.” si pengemis paruhbaya mengagguk-anggukan kepala, begitu juga yang lainnya. “Memang kehidupan ini hanyalah samsara, penderitaan dan kesengsaraan.
Sedangkan kematian merupakan nirwana, kesenangan yang teramat membahagiakan. Karena bisa melepaskan kita dari berbagai penderitaan.” ”Itu benar, Kisanak.” Kebo Benowo mengacungkan jempolnya. “lihatlah mereka yang tadinya hidup susah, lalu dalam keadaan sakit dan sekarat, akhirnya mati tersenyum. Mereka mengakhiri segala penderitaan dengan kematian. Untuk apa kita hidup di negeri mayat, jika itu bukan mayat yang sesungguhnya. Mereka semua hanyalah mayat-mayat berjalan, tidak memiliki rasa dan kepekaan. Meskipun punya jabatan dan kekayaan namun tidak bisa mereka nikmati. Maka kematianlah sesungguhnya kenikmatan setiap manusia, yang harus kita raih dan dapatkan.”
“Saya setuju, Ki.” pengemis paruhbaya bangkit. “Jika demikian marilah kita songsong kematian…saya ingin mati!” teriaknya. Selanjutnya diikuti oleh para pengemis lainnya. Para pengemis bangkit dari duduknnya seraya berjalan-jalan keliling sambil berteriak-teriak menyongsong kematian. Ada juga yang nekad membenturkan kepalanya ke atas batu hingga pecah dan meninggal, ada juga yang terus berjalan menunggu ajal tanpa makan. “Hahahaha…mungkin itulah yang dimaksud Joyo Dento.” Kebo Benowo mengawasi para pengemis sambil tersenyum.
“Hebat andika Joyo Dento.” puji Kebo Benowo seraya menepuk-nepuk bahunya. “Sekarang keadaan negeri Demak Bintoro akan dilanda oleh kekacauan, serta krisis kepercayaan. Itu semua alhasil dari hasutan kita agar masyarakat miskin antipati terhadap penguasa. Benar-benar cerdik daya pemikiran andika, Dento.” “Itulah yang harus kita ciptakan. Strategi pertama untuk menggoncang keaadaan negara. Setelah ini berhasil dan di dengar beritannya oleh para penguasa negeri Demak Bintoro, maka pertama-tama mereka akan mencari tahu penyebabnya.” ujar Joyo Dento. “Mungkinkah mereka akan menangkap kita sebagai penghasut?” tanya Loro Gempol. “Sangat tidak mungkin, Ki.” jawab Joyo Dento yakin. “Kenapa? Bukankah kita penghasutnya?” timpal Kebo Benowo. “Karena kita bukan menghasut tapi berbicara berdasarkan kenyataan.
Mereka pun tidak mudah menuduh kita sebagi pengasut, dalam menciptakan kekacauan di negeri Demak Bintoro tanpa adanya bukti yang kuat.” terang Joyo Dento. “Benar juga, Dento.” Kebo Benowo menganggukan kepala. “Jika keadaan negara sudah kacau balau, rakyat tidak percaya lagi pada penguasa, maka mereka akan sibuk. Dalam keadaan seperti itulah kita mengadakan tindakan.” Joyo Dento mengepalkan tangannya. “Melakukan kudeta?” celetuk Loro Gempol. “Apa mungkin kita mampuh menggulingkan kekuasaan Raden Patah?” kerut Kebo Benowo. “Karena kekacauan seperti ini tidak seberaba, jika dibanding dengan kekuatan negara Demak Bintoro yang sesungguhnya. Lalu kita juga harus berkaca, apa mungkin kekuatan kita sudah cukup untuk melakukan penyerangan?”
“Apa salahnya jika kita mencoba? Siapa tahu menang.” tambah Loro Gempol seraya menggenggam gagang goloknya. “Benar, kita mesti mencoba dan berusaha. Untuk mengukur kekuatan kita, sudah semestinya begitu.” terang Joyo Dento. “Namun dalam tindakan percobaan kita harus menciptakan strategi penyerangan yang berbeda. Agar kita pada waktunya tidak konyol dan membahayakan diri sendiri.” “Jika demikian ijinkan saya menyiapkan pasukan untuk menyerbu Demak Bintoro, Ki Benowo.” Loro Gempol Bangkit dari duduknya, langkahnya berat dan pasti. “Tunggu dulu, Gempol!” Kebo Benowo berteriak. “Kenapa mesti menunggu lagi? Bukankah kita akan mencoba kekuatan?” langkah Loro Gempol terhenti di depan pintu. “Benar, Ki Gempol.
Namun ingatlah yang saya katakan tadi. Meski dikalangan rakyat miskin sedang terjadi kekacauan, namun itu belum seberapa.” terang Joyo Dento. “Kekacauan tadi hanya bersifat lokal, sangat kurang berpengaruh terhadap stabilitas keamanan negeri Demak Bintoro. Sebaiknya sebelum melakukan penyerangan sebarkan dulu kekacauan tadi hingga merebak seantero negeri Demak Bintoro.” urainya. “Benar, Gempol. Apa yang dikatakan Joyo Dento sebaiknya diikuti, karena dia sudah saya angkat sebagai penasihat.” ujar Kebo Benowo, seraya menepuk bahu Loro Gempol. “Baiklah jika itu perintah Ki Benowo.” Loro Gempol menganggukan kepalanya, seraya kembali ke tempat duduknya.
“Baguslah jika andika setuju.” Kebo Benowo tersenyum bahagia, lalu melirik ke arah Joyo Dento, dalam benaknya menaruh berjuta harapan demi cita-citanya menggenggam kekuasaan di negeri Demak Bintoro. “Apa rencana berikutnya, Dento?” “Baiklah, kita menyusun strategi berikutnya.” Joyo Dento menempelkan jari dikeningnya seakan-akan berpikir sangat keras. *** “Syekh, rasanya sangat berat untuk menempuh jalan ma’rifat.” Kebo Kenongo nampak tidak ceria. “Ya, tentu saja.” “Mungkinkah saya harus bertahap? Menurut tahapan ilmu, Syekh?” “Tidak selalu, Ki Ageng Pengging.” Syekh Siti Jenar perlahan bangkit dari duduknya. “Bukankah saya menyarankan jika seandainya andika kesulitan mengikuti ilmu Islam, hendaknya ikutilah ajaran agama yang andika anut. Bukankah andika tinggal satu atau dua langkah lagi menuju ma’rifat, setelah itu akrab.
Orang yang akrab dengan Allah itulah seperti yang pernah saya uraikan sebelumnya.” “Ya,” Kebo Kenongo menggeleng, “Itu dibicarakan sangatlah mudah, Syekh. Namun untuk melaksanakannya terasa berat, dan sulit untuk membuka tabirnya. Jika sekali saja tabir itu sudah terbuka tentulah berikutnya akan lebih mudah.” “Benar,” Syekh Siti Jenar terdiam sejenak, matanya yang sejuk dan tajam beradu tatap dengan Kebo Kenongo. “Ya, hanya Sunan Kalijaga yang bisa…” gumamnya. “Sunan Kalijaga?” “Tidak perlu dipikirkan! Apalagi mempertanyakannya.” Syekh Siti Jenar kembali ke tempat duduknya.
“Kanjeng Sunan Giri, tahukah anda tentang Syekh Siti Jenar?” tanya seorang jemaah paruhbaya, usai melaksanakan sholat zuhur di masjid Demak. “Ya,” Sunan Giri menatapnya, “Memang kenapa dengan Syekh Siti Jenar, Ki Demang?” “Dia telah meresahkan.” jawab Ki Demang. “Meresahkan?” “Ya,” “Memang apa yang telah dia perbuat, Ki Demang?” “Syekh Siti Jenar telah mengacaukan keadaan rakyat negeri Demak Bintoro, Kanjeng.” “Maksud, Ki Demang?” Sunan Giri mengerutkan dahinya.
“Namun sebelumnya saya ingin tahu dulu.” “Tentang apa?” “Apakah Syekh Siti Jenar juga seorang wali seperti anda?” “Bukan! Dia hanyalah sosok yang tidak jelas asal usulnya. Juga ilmu yang didalaminya entah dari mana sumbernya.” “Tapi bukankah dia juga seorang ulama yang memiliki ilmu tinggi?” “Mungkin saja, Ki Demang. Tetapi dia bukan wali seperti saya dan yang lainnya. Selain asal usulnya tidak jelas, dia juga mempelajari ajaran Islamnnya entah dari mana?” “Berkaitan dengan itulah yang kini meresahkan dikalangan rakyat negeri Demak Bintoro, Kanjeng.” “Maksud, Ki Demang?” Sunan Giri menatap tajam wajah Demang Bintoro, dahinya dikerutkan. “Apakah Syekh Siti Jenar membuat ulah?” “Kemungkinan besar itulah yang sedang terjadi, Kanjeng.” “Tolong jelaskan, Ki Demang! Apa yang terjadi?” “Syekh Siti jenar telah menyebarkan ajaran sesat, Kanjeng.” “Ajaran sesat?” Sunan Giri terperanjat. “Benar,” “Maksud Ki Demang ajaran sesat seperti apa?” “Kehidupan ini adalah kematian…kematian adalah keabadian….” “Lalu?” “Lantas mereka banyak yang melakukan bunuh diri. Karena punya anggapan bahwa kehidupan ini adalah penderitaan.
Buktinya mereka banyak yang miskin dan menjadi gelandangan. Sedangkan kematian itu adalah indah dan menyenangkan.” Demang Bintoro menghela napas, “Mereka punya anggapan dengan jalan kematian bisa terlepas dari semua penderitaan dan kesengsaraan…” “Celaka!” Sunan Giri menepuk keningnya. “Sehingga banyak yang berteriak-teriak seperti orang gila mencari kematian dan keindahan abadi yang diharapkannya. Lalu bunuh diri…” tambah Demang Bintoro. “Saya pun datang ke mesjid Demak dari kademangan tidak lain hanya ingin menyampaikan kabar ini kepada para wali.” “Ini merupakan hal yang sangat serius yang bisa mengancam ketentraman dan keamanan negeri Demak Bintoro.” Sunan Giri bangkit dari duduknya, lalu matanya menatap para wali lain yang sedang melakukan wirid. Dipanggilnnya mereka untuk berundingsejenak. “Jangan dulu pulang Ki Demang, andika harus menyampaikan kejadian ini pada para wali.”
“Baiklah, Kanjeng.” Demang Bintoro menganggukan kepala, seraya menatap para wali yang mulai duduk berkeliling di tengah masjid sesuai permintaan Sunan Giri.
‘Bagaimana pun juga aku harus menghadap Ki Ageng Pengging. Meskipun dia tidak berambisi untuk menjadi penguasa negeri Demak Bintoro. Namun aku tidak rela jika bekas para abdi Majapahit berada dibawah bayang-bayang kekuasaan Raden Patah.’ ujar hati Joyo Dento, seraya tangannya menggenggam tali kendali kuda yang ditungganginya, berjalan pelan mendekati padepokan Syekh Siti Jenar. ‘Siapa tahu Ki Ageng berubah pikiran mendukung perjuangan ini, apalagi jika Syekh Siti Jenar turun tangan untuk membantu. Aku yakin pemberontakan ini tidak akan terlalu berat, karena mereka orang-orang sakti dan cerdas.
Jauh berbeda dibanding dengan Kebo Benowo mantan rampok bego, hanya punya ambisi semata dan kekuatan yang belum tentu bisa menandingi para wali.’ Joyo Dento menghentikan langkah kuda, lalu dikatnya pada sebuah pohon di tepi jalan. ‘Tunggu saja kamu disini kuda. Karena tidak mungkin sanggup menaiki jalan yang menyerupai tangga. Biar aku berjalan kaki saja untuk menemui mereka. Joyo Dento meluruskan pandangannya ke depan, usai mengikat kuda tunggangannya. Lalu melangkah pelan, menaiki jalan yang dipapas menyerupai tangga. ‘Banyak juga jumlah anak tangga ini,’ tangannya menyeka keringat yang mulai membasahi keningnya. ‘…tapi akhirnya aku sampai juga dipuncak…eh…ternyata masih ada jalan lurus membentang menuju padepokan.’ Joyo Dento berhenti sejenak menikmati sejuknya udara pegunungan dan hijau ranumnnya dedaunan, serta pemandangan puncak gunung yang tersaput mega putih. “Indah!” gumamnya. “Tempat ini di tata sangat bagus, membuat orang kerasan. Kanan kiri jalan dihiasi oleh pepohonan hijau, rerumputan…Syekh Siti Jenar menyukai keindahan dan keasrian alam.” Joyo Dento menghentikan langkahnya di depan pintu pagar padepokan, “Sampurasun!” “Masuklah Joyo Dento!” terdengar suara yang menyebut namanya, sedangkan wujudnnya entah dimana.
“Syekh Siti Jenarkah yang memanggil saya?” Joyo Dento memutar pandanganya, suara itu seakan-akan datang dari segala arah. “Bukankah aku ini sedang berada di depan pintu pagar padepokan?” gumamnnya. “Benar,” “Baiklah.” Joyo Dento membuka pintu pagar, seraya berdiri di depan pintu padepokan dan mendorongnya pelan. “Kenapa didalam tidak ada orang? Lantas Syekh Siti Jenar memanggil saya dari mana?” “Bukalah mata hati andika, Dento!” “Ki Agengkah itu?” Joyo Dento membelalakan matanya, menelisik ruang kosong, di depannya hanya terdapat hamparan tikar. “Benar, ini saya.” “Namun Ki Ageng tidak saya temukan, begitu juga Syekh Siti Jenar? Padahal suaranya seperti berada didepan saya.” Joyo Dento memijit-mijit dahinya. “Tataplah dengan mata terbuka, jangan dengan mata tertutup.” “Tapi saya sudah menatapnnya dengan mata terbuka, Ki Ageng Pengging. Namun saya tidak bisa menemukan keberadaan andika selain suara. Dan ruangan ini kosong, hampa, tidak ada orang?” Joyo Dento semakin kebingungan. Namun matanya merayap dan tertuju pada dua hamparan tikar yang berada dihadapannya.
“Bukankah saya ada dihadapan andika, Dento?” ujar Kebo Kenongo, seiring dengan bergeraknya hamparan terusik angin sepoi tikar. Pelan-pelan wujud keduanya yang sedang duduk bersila mulai tampak. “Ki Ageng, terimalah sembah hormat hamba!” Joyo Dento langsung saja menekuk lututnya seraya mengacungkan kedua tangannya menyembah. “Begitu juga pada Syekh Siti Jenar, seorang wali yang memiliki kesaktian tinggi.
Ijinkanlah hamba pada saat ini menghadap!” “Saya ijinkan, Dento.” Kebo Kenongo tersenyum. “Terimakasih, Ki Ageng.” lalu melirik ke arah Syekh Siti Jenar, wajahnya tampak memancarkan cahaya yang menyilaukan matanya, hingga tidak sanggup menatapnya. Joyo Dento pun menunduk. “Saya mohon maaf Syekh Siti Jenar karena telah lancang datang ke padepokan yang indah dan asri ini. Karena hamba punya maksud dan tujuan….” “Saya memaklumi, dan tahu akan tujuan dari kehadiran andika ke padepokan ini. Bukankah untuk meminta restu serta bantuan kami berdua atas upaya ambisi menggulingkan kekuasaan Raden Patah.” terang Syekh Siti Jenar. “Duh, mohon maaf Syekh. Ternyata andika memiliki ilmu sangat tinggi. Pantas saja Kebo Benowo dan kawan-kawannya sakti.” Joyo Dento semakin merunduk dan tercengang, atas kehebatan Syekh Siti Jenar yang tahu akan maksud kedatangannya. “Namun tidakah Syekh….” “Tidak, karena saya mengajarkan ilmu pada siapa saja yang mengingkannya. Kebo Benowo dan kawan-kawan mantan rampok yang memiliki ambisi untuk menggulingkan kekuasaan Raden Patah serta bermimipi ingin menjadi penguasa negeri Demak Bintoro adalah sebuah taqdir.” Syekh Siti Jenar seakan-akan sudah mengetahui setiap rencana, bahkan yang belum terujar masih tersimpan di dalam hati pun bisa diketahuinya.
Bersambung
“Meski saya telah berkali-kali memikirkannya belum juga menemukan cara yang tepat, Gempol.” Kebo Benowo menempelkan telunjuk dikeningnya. Lalu bangkit dari duduknya, menggendong kedua tangannya dibelakang, dahinya berkerut-kerut, kakinya melangkah pelan. “….bagaimana…cara termudah?” “Bolehkah saya berbicara?” Joyo Dento mengangkat kepalanya. “Apa yang akan andika katakan, Dento? Bantulah saya berpikir!” tatap Kebo Benowo. “Menurut hemat saya, negara Demak Bintoro kini dalam keadaan tenang dan tentram. Namun bukan berarti ketenangan ini tidak bisa diusik.” “Semua orang tahu! Apa maksud andika!” timpal Loro Gempol meninggi. “Mohon maaf, Ki Gempol. Bukankah saya belum selesai bicara?” “Lanjutkan, Dento!” ujar Kebo Benowo mengacungkan telapak tangannya, seraya menatap Loro Ge,pol agar memberi kesempatan bicara pada Joyo Dento. “Negeri Demak Bintoro kini dalam keadaan tenang dan tentram. Sangat sulit bagi kita untuk melakukan pemberontakan apalagi penggulingan kekuasaan.
Namun bukan berarti suasana tenang dan tentram ini tidak bisa diubah, menjadi kacau balau dan carut marut.” Joyo Dento berhenti sejenak, matanya merayap mengelilingi ruang pertemuan. Kembali tatapannya tertuju pada Kebo Benowo. “Maksud andika?” Loro Gempol tidak sabar. “Maksud saya, untuk merubah suasana tenang dan tentram ini harus menciptakan keadaan sebaliknya.” “Mengacau ketenangan masyarakat?” tatap Kebo Benowo. “Jika itu dilakukan berarti tindakan kita untuk menggulingkan Raden Patah tidak akan berhasil, bahkan akan mendapat kecaman dari rakyat. Karena mereka tahu bahwa kita pengacau.
Sedangkan yang kita harapkan dukungan rakyat, yang membetulkan tindakan kudeta. Jadi pada intinya tindakan kita harus mendapat simpati dari rakyat.” “Benar, maksud saya itu.” ujar joyo Dento. “Maksud andika jelas salah, Dento! Tidakah andika membayangkan jika kita merampok rakyat, mengganggu rakyat, sebaliknya mereka akan lebih simpati pada Sultan.” sela Loro Gempol. “Tentu, jika kita salah dalam melakukan tindakan.” terang Joyo Dento. “Saya meskipun sehari-hari berada di pasar dan melakukan perbuatan sabung ayam, hanya untuk melampiaskan hobi saja. Andika belum paham jika saya dulu pernah mengabdi di Kadipaten Majapahit. Bahkan saya pun banyak belajar tentang politik dan ketatanegaraan.
Namun orang-orang Majapahit kini tidak mau lagi memperlihatkan diri dan merasa antipati terhadap Raja Demak Bintoro, karena membaca kekuatan sendiri. Jika melakukan hal tadi berarti akan ditangkap, termasuk Ki Ageng Pengging, beliau lebih memilih hidup menjadi seorang petani, dengan nama lain.” Mendengar uraian Joyo Dento yang membuka jatidirinya dan mengurai keahliannya, Kebo Benowo, Loro Gempol, Lego Benongo, juga seluruh peserta sidang pada kesempatan itu terkagum-kagum. “Pantas saja, andika berbeda.” Kebo Benowo menggelengkan kepala. “Jika demikian lanjutkanlah rencana dan dasar pemikiran andika. Andika mulai hari ini saya angkat sebagi penasehat saya dan yang lainnya.”
“Terimakasih, Ki Benowo.” Joyo Dento menghela napas, “Saya sebetulnya sejak dulu mencari teman dan orang yang ingin melakukan pemberontakan, sekaligus penggulingan kekuasaan terhadap Raden Patah. Namun kini saya baru menemukan orang yang benar-benar punya niat dan tujuan yang sama dengan saya. Jadi tidak ada salahnya jika saya pun mendukung gerakan ini.” “Kita tidak salah bergabung, Dento.” ujar Kebo Benowo.
“Hanya sayang, yang semestinnya Ki Ageng Pengging yang harus maju dan bergabung dengan kita sama sekali tidak tertarik. Ki Ageng Pengging sesungguhnya memiliki darah biru yang sangat kuat, karena beliau keturunan raja Majapahit.” Joyo Dento berhenti sejenak, “Namun meski pun demikian andikalah yang ternyata berani maju, Ki Benowo. Tidak ada salahnya, saya akan mendukung. Hanya dalam hal ini kita harus punya strategi yang tepat. Seperti yang saya uraikan pertama kali.” ”Ya, tentang pembicaraan semula. Lanjutkan apa rencana tadi?” pinta Kebo Benowo. “Baiklah,” ujar Joyo Dento.
”Dengarkan para pengemis!” teriak Kebo Benowo, matanya menyapu para pengemis yang bersila di pinggir jalan menuju pasar. “Kenapa andika semua mesti jadi pengemis? Tidak inginkah hidup mewah seperti para penduduk kota Demak Bintoro? Tidak inginkah kalian menjadi orang kaya, seperti para pejabat negara? Bukankah mereka itu manusia seperti kita? Harus sadar pula bahwa kita pun memiliki hak yang sama seperti mereka. Tidak sadarkah jika para pejabat Negeri Demak telah mendzalimi kalian semua? Membiarkan kalian terlantar dipinggiran jalan. Sementara mereka bersenang- senang di pusat kota Demak Bintoro.
Tidak sadarkah bahwa mereka telah melupakan kita selaku rakyat? Mereka telah menelantarkan kita dalam lingkaran kemiskinan dan penderitaan. Kalian harus paham akan semua itu. Sesungguhnya hak kalian telah dirampas oleh mereka.” “Jadi kami mesti bagaimana, Ki? Sedangkan kami pun tidak ingin menjadi orang miskin.” ujar seorang pengemis paruhbaya. “Ingatlah, bahwa kalian memiliki hak yang sama seperti para penguasa negeri ini. Mintalah hak kalian!” ujar Kebo Benowo. “Tidak mungkin? Mustahil keinginan kita dikabulkan oleh para penguasa dzalim yang tidak peduli akan nasib rakyatnya, yang miskin seperti kami.” ujar si pengemis paruhbaya. “Jika tidak mungkin menurut kalian, tidak perlu menyesal dengan nasib yang dialami.
Karena kehidupan dunia ini hanyalah sekejap, setelah itu kita akan mati. Untuk itu biarkanlah mereka itu menikmati hidupnya sebagai penguasa, karena mereka hanyalah mayat-mayat hidup yang menunggu kematian. Sedangkan kematian merupakan pertemuan kita dengan Sang Pencipta, untuk menemui kenikmatan yang abadi.” urai Kebo Benowo. “Benarkah kematian itu merupakan kenikmatan yang abadi dibandingkan dengan para penguasa yang sekarang sedang menikmati kesenangan?” kerut pengemis paruhbaya. “Benar, karena mereka pun akan mati. Setelah mati maka ditangisi oleh keluarganya, lalu harta yang mereka agung-agungkan ditinggalkan untuk diperebutkan oleh keturunannya. Jadi apa artinya harta kekayaan juga kekuasaan. Toh, kita pun akan mati dan meninggalkan semua kesenangan duniawi yang bersifat sekejap.
Bayangkanlah kesenangan setelah kematian. Bukankah nenek moyang kalian tidak pernah ingin kembali ke dunia ini dari kuburnya? Mengapa demikian? Karena mereka menikmati kematian yang teramat menyenangkan dan menentramkan.” Kebo Benowo yang memahami secara dangkal ajaran Syekh Siti Jenar, mencoba mengurai sesuka hatinya. “Benar juga yang andika katakan, Ki.” si pengemis paruhbaya mengagguk-anggukan kepala, begitu juga yang lainnya. “Memang kehidupan ini hanyalah samsara, penderitaan dan kesengsaraan.
Sedangkan kematian merupakan nirwana, kesenangan yang teramat membahagiakan. Karena bisa melepaskan kita dari berbagai penderitaan.” ”Itu benar, Kisanak.” Kebo Benowo mengacungkan jempolnya. “lihatlah mereka yang tadinya hidup susah, lalu dalam keadaan sakit dan sekarat, akhirnya mati tersenyum. Mereka mengakhiri segala penderitaan dengan kematian. Untuk apa kita hidup di negeri mayat, jika itu bukan mayat yang sesungguhnya. Mereka semua hanyalah mayat-mayat berjalan, tidak memiliki rasa dan kepekaan. Meskipun punya jabatan dan kekayaan namun tidak bisa mereka nikmati. Maka kematianlah sesungguhnya kenikmatan setiap manusia, yang harus kita raih dan dapatkan.”
“Saya setuju, Ki.” pengemis paruhbaya bangkit. “Jika demikian marilah kita songsong kematian…saya ingin mati!” teriaknya. Selanjutnya diikuti oleh para pengemis lainnya. Para pengemis bangkit dari duduknnya seraya berjalan-jalan keliling sambil berteriak-teriak menyongsong kematian. Ada juga yang nekad membenturkan kepalanya ke atas batu hingga pecah dan meninggal, ada juga yang terus berjalan menunggu ajal tanpa makan. “Hahahaha…mungkin itulah yang dimaksud Joyo Dento.” Kebo Benowo mengawasi para pengemis sambil tersenyum.
“Hebat andika Joyo Dento.” puji Kebo Benowo seraya menepuk-nepuk bahunya. “Sekarang keadaan negeri Demak Bintoro akan dilanda oleh kekacauan, serta krisis kepercayaan. Itu semua alhasil dari hasutan kita agar masyarakat miskin antipati terhadap penguasa. Benar-benar cerdik daya pemikiran andika, Dento.” “Itulah yang harus kita ciptakan. Strategi pertama untuk menggoncang keaadaan negara. Setelah ini berhasil dan di dengar beritannya oleh para penguasa negeri Demak Bintoro, maka pertama-tama mereka akan mencari tahu penyebabnya.” ujar Joyo Dento. “Mungkinkah mereka akan menangkap kita sebagai penghasut?” tanya Loro Gempol. “Sangat tidak mungkin, Ki.” jawab Joyo Dento yakin. “Kenapa? Bukankah kita penghasutnya?” timpal Kebo Benowo. “Karena kita bukan menghasut tapi berbicara berdasarkan kenyataan.
Mereka pun tidak mudah menuduh kita sebagi pengasut, dalam menciptakan kekacauan di negeri Demak Bintoro tanpa adanya bukti yang kuat.” terang Joyo Dento. “Benar juga, Dento.” Kebo Benowo menganggukan kepala. “Jika keadaan negara sudah kacau balau, rakyat tidak percaya lagi pada penguasa, maka mereka akan sibuk. Dalam keadaan seperti itulah kita mengadakan tindakan.” Joyo Dento mengepalkan tangannya. “Melakukan kudeta?” celetuk Loro Gempol. “Apa mungkin kita mampuh menggulingkan kekuasaan Raden Patah?” kerut Kebo Benowo. “Karena kekacauan seperti ini tidak seberaba, jika dibanding dengan kekuatan negara Demak Bintoro yang sesungguhnya. Lalu kita juga harus berkaca, apa mungkin kekuatan kita sudah cukup untuk melakukan penyerangan?”
“Apa salahnya jika kita mencoba? Siapa tahu menang.” tambah Loro Gempol seraya menggenggam gagang goloknya. “Benar, kita mesti mencoba dan berusaha. Untuk mengukur kekuatan kita, sudah semestinya begitu.” terang Joyo Dento. “Namun dalam tindakan percobaan kita harus menciptakan strategi penyerangan yang berbeda. Agar kita pada waktunya tidak konyol dan membahayakan diri sendiri.” “Jika demikian ijinkan saya menyiapkan pasukan untuk menyerbu Demak Bintoro, Ki Benowo.” Loro Gempol Bangkit dari duduknya, langkahnya berat dan pasti. “Tunggu dulu, Gempol!” Kebo Benowo berteriak. “Kenapa mesti menunggu lagi? Bukankah kita akan mencoba kekuatan?” langkah Loro Gempol terhenti di depan pintu. “Benar, Ki Gempol.
Namun ingatlah yang saya katakan tadi. Meski dikalangan rakyat miskin sedang terjadi kekacauan, namun itu belum seberapa.” terang Joyo Dento. “Kekacauan tadi hanya bersifat lokal, sangat kurang berpengaruh terhadap stabilitas keamanan negeri Demak Bintoro. Sebaiknya sebelum melakukan penyerangan sebarkan dulu kekacauan tadi hingga merebak seantero negeri Demak Bintoro.” urainya. “Benar, Gempol. Apa yang dikatakan Joyo Dento sebaiknya diikuti, karena dia sudah saya angkat sebagai penasihat.” ujar Kebo Benowo, seraya menepuk bahu Loro Gempol. “Baiklah jika itu perintah Ki Benowo.” Loro Gempol menganggukan kepalanya, seraya kembali ke tempat duduknya.
“Baguslah jika andika setuju.” Kebo Benowo tersenyum bahagia, lalu melirik ke arah Joyo Dento, dalam benaknya menaruh berjuta harapan demi cita-citanya menggenggam kekuasaan di negeri Demak Bintoro. “Apa rencana berikutnya, Dento?” “Baiklah, kita menyusun strategi berikutnya.” Joyo Dento menempelkan jari dikeningnya seakan-akan berpikir sangat keras. *** “Syekh, rasanya sangat berat untuk menempuh jalan ma’rifat.” Kebo Kenongo nampak tidak ceria. “Ya, tentu saja.” “Mungkinkah saya harus bertahap? Menurut tahapan ilmu, Syekh?” “Tidak selalu, Ki Ageng Pengging.” Syekh Siti Jenar perlahan bangkit dari duduknya. “Bukankah saya menyarankan jika seandainya andika kesulitan mengikuti ilmu Islam, hendaknya ikutilah ajaran agama yang andika anut. Bukankah andika tinggal satu atau dua langkah lagi menuju ma’rifat, setelah itu akrab.
Orang yang akrab dengan Allah itulah seperti yang pernah saya uraikan sebelumnya.” “Ya,” Kebo Kenongo menggeleng, “Itu dibicarakan sangatlah mudah, Syekh. Namun untuk melaksanakannya terasa berat, dan sulit untuk membuka tabirnya. Jika sekali saja tabir itu sudah terbuka tentulah berikutnya akan lebih mudah.” “Benar,” Syekh Siti Jenar terdiam sejenak, matanya yang sejuk dan tajam beradu tatap dengan Kebo Kenongo. “Ya, hanya Sunan Kalijaga yang bisa…” gumamnya. “Sunan Kalijaga?” “Tidak perlu dipikirkan! Apalagi mempertanyakannya.” Syekh Siti Jenar kembali ke tempat duduknya.
“Kanjeng Sunan Giri, tahukah anda tentang Syekh Siti Jenar?” tanya seorang jemaah paruhbaya, usai melaksanakan sholat zuhur di masjid Demak. “Ya,” Sunan Giri menatapnya, “Memang kenapa dengan Syekh Siti Jenar, Ki Demang?” “Dia telah meresahkan.” jawab Ki Demang. “Meresahkan?” “Ya,” “Memang apa yang telah dia perbuat, Ki Demang?” “Syekh Siti Jenar telah mengacaukan keadaan rakyat negeri Demak Bintoro, Kanjeng.” “Maksud, Ki Demang?” Sunan Giri mengerutkan dahinya.
“Namun sebelumnya saya ingin tahu dulu.” “Tentang apa?” “Apakah Syekh Siti Jenar juga seorang wali seperti anda?” “Bukan! Dia hanyalah sosok yang tidak jelas asal usulnya. Juga ilmu yang didalaminya entah dari mana sumbernya.” “Tapi bukankah dia juga seorang ulama yang memiliki ilmu tinggi?” “Mungkin saja, Ki Demang. Tetapi dia bukan wali seperti saya dan yang lainnya. Selain asal usulnya tidak jelas, dia juga mempelajari ajaran Islamnnya entah dari mana?” “Berkaitan dengan itulah yang kini meresahkan dikalangan rakyat negeri Demak Bintoro, Kanjeng.” “Maksud, Ki Demang?” Sunan Giri menatap tajam wajah Demang Bintoro, dahinya dikerutkan. “Apakah Syekh Siti Jenar membuat ulah?” “Kemungkinan besar itulah yang sedang terjadi, Kanjeng.” “Tolong jelaskan, Ki Demang! Apa yang terjadi?” “Syekh Siti jenar telah menyebarkan ajaran sesat, Kanjeng.” “Ajaran sesat?” Sunan Giri terperanjat. “Benar,” “Maksud Ki Demang ajaran sesat seperti apa?” “Kehidupan ini adalah kematian…kematian adalah keabadian….” “Lalu?” “Lantas mereka banyak yang melakukan bunuh diri. Karena punya anggapan bahwa kehidupan ini adalah penderitaan.
Buktinya mereka banyak yang miskin dan menjadi gelandangan. Sedangkan kematian itu adalah indah dan menyenangkan.” Demang Bintoro menghela napas, “Mereka punya anggapan dengan jalan kematian bisa terlepas dari semua penderitaan dan kesengsaraan…” “Celaka!” Sunan Giri menepuk keningnya. “Sehingga banyak yang berteriak-teriak seperti orang gila mencari kematian dan keindahan abadi yang diharapkannya. Lalu bunuh diri…” tambah Demang Bintoro. “Saya pun datang ke mesjid Demak dari kademangan tidak lain hanya ingin menyampaikan kabar ini kepada para wali.” “Ini merupakan hal yang sangat serius yang bisa mengancam ketentraman dan keamanan negeri Demak Bintoro.” Sunan Giri bangkit dari duduknya, lalu matanya menatap para wali lain yang sedang melakukan wirid. Dipanggilnnya mereka untuk berundingsejenak. “Jangan dulu pulang Ki Demang, andika harus menyampaikan kejadian ini pada para wali.”
“Baiklah, Kanjeng.” Demang Bintoro menganggukan kepala, seraya menatap para wali yang mulai duduk berkeliling di tengah masjid sesuai permintaan Sunan Giri.
‘Bagaimana pun juga aku harus menghadap Ki Ageng Pengging. Meskipun dia tidak berambisi untuk menjadi penguasa negeri Demak Bintoro. Namun aku tidak rela jika bekas para abdi Majapahit berada dibawah bayang-bayang kekuasaan Raden Patah.’ ujar hati Joyo Dento, seraya tangannya menggenggam tali kendali kuda yang ditungganginya, berjalan pelan mendekati padepokan Syekh Siti Jenar. ‘Siapa tahu Ki Ageng berubah pikiran mendukung perjuangan ini, apalagi jika Syekh Siti Jenar turun tangan untuk membantu. Aku yakin pemberontakan ini tidak akan terlalu berat, karena mereka orang-orang sakti dan cerdas.
Jauh berbeda dibanding dengan Kebo Benowo mantan rampok bego, hanya punya ambisi semata dan kekuatan yang belum tentu bisa menandingi para wali.’ Joyo Dento menghentikan langkah kuda, lalu dikatnya pada sebuah pohon di tepi jalan. ‘Tunggu saja kamu disini kuda. Karena tidak mungkin sanggup menaiki jalan yang menyerupai tangga. Biar aku berjalan kaki saja untuk menemui mereka. Joyo Dento meluruskan pandangannya ke depan, usai mengikat kuda tunggangannya. Lalu melangkah pelan, menaiki jalan yang dipapas menyerupai tangga. ‘Banyak juga jumlah anak tangga ini,’ tangannya menyeka keringat yang mulai membasahi keningnya. ‘…tapi akhirnya aku sampai juga dipuncak…eh…ternyata masih ada jalan lurus membentang menuju padepokan.’ Joyo Dento berhenti sejenak menikmati sejuknya udara pegunungan dan hijau ranumnnya dedaunan, serta pemandangan puncak gunung yang tersaput mega putih. “Indah!” gumamnya. “Tempat ini di tata sangat bagus, membuat orang kerasan. Kanan kiri jalan dihiasi oleh pepohonan hijau, rerumputan…Syekh Siti Jenar menyukai keindahan dan keasrian alam.” Joyo Dento menghentikan langkahnya di depan pintu pagar padepokan, “Sampurasun!” “Masuklah Joyo Dento!” terdengar suara yang menyebut namanya, sedangkan wujudnnya entah dimana.
“Syekh Siti Jenarkah yang memanggil saya?” Joyo Dento memutar pandanganya, suara itu seakan-akan datang dari segala arah. “Bukankah aku ini sedang berada di depan pintu pagar padepokan?” gumamnnya. “Benar,” “Baiklah.” Joyo Dento membuka pintu pagar, seraya berdiri di depan pintu padepokan dan mendorongnya pelan. “Kenapa didalam tidak ada orang? Lantas Syekh Siti Jenar memanggil saya dari mana?” “Bukalah mata hati andika, Dento!” “Ki Agengkah itu?” Joyo Dento membelalakan matanya, menelisik ruang kosong, di depannya hanya terdapat hamparan tikar. “Benar, ini saya.” “Namun Ki Ageng tidak saya temukan, begitu juga Syekh Siti Jenar? Padahal suaranya seperti berada didepan saya.” Joyo Dento memijit-mijit dahinya. “Tataplah dengan mata terbuka, jangan dengan mata tertutup.” “Tapi saya sudah menatapnnya dengan mata terbuka, Ki Ageng Pengging. Namun saya tidak bisa menemukan keberadaan andika selain suara. Dan ruangan ini kosong, hampa, tidak ada orang?” Joyo Dento semakin kebingungan. Namun matanya merayap dan tertuju pada dua hamparan tikar yang berada dihadapannya.
“Bukankah saya ada dihadapan andika, Dento?” ujar Kebo Kenongo, seiring dengan bergeraknya hamparan terusik angin sepoi tikar. Pelan-pelan wujud keduanya yang sedang duduk bersila mulai tampak. “Ki Ageng, terimalah sembah hormat hamba!” Joyo Dento langsung saja menekuk lututnya seraya mengacungkan kedua tangannya menyembah. “Begitu juga pada Syekh Siti Jenar, seorang wali yang memiliki kesaktian tinggi.
Ijinkanlah hamba pada saat ini menghadap!” “Saya ijinkan, Dento.” Kebo Kenongo tersenyum. “Terimakasih, Ki Ageng.” lalu melirik ke arah Syekh Siti Jenar, wajahnya tampak memancarkan cahaya yang menyilaukan matanya, hingga tidak sanggup menatapnya. Joyo Dento pun menunduk. “Saya mohon maaf Syekh Siti Jenar karena telah lancang datang ke padepokan yang indah dan asri ini. Karena hamba punya maksud dan tujuan….” “Saya memaklumi, dan tahu akan tujuan dari kehadiran andika ke padepokan ini. Bukankah untuk meminta restu serta bantuan kami berdua atas upaya ambisi menggulingkan kekuasaan Raden Patah.” terang Syekh Siti Jenar. “Duh, mohon maaf Syekh. Ternyata andika memiliki ilmu sangat tinggi. Pantas saja Kebo Benowo dan kawan-kawannya sakti.” Joyo Dento semakin merunduk dan tercengang, atas kehebatan Syekh Siti Jenar yang tahu akan maksud kedatangannya. “Namun tidakah Syekh….” “Tidak, karena saya mengajarkan ilmu pada siapa saja yang mengingkannya. Kebo Benowo dan kawan-kawan mantan rampok yang memiliki ambisi untuk menggulingkan kekuasaan Raden Patah serta bermimipi ingin menjadi penguasa negeri Demak Bintoro adalah sebuah taqdir.” Syekh Siti Jenar seakan-akan sudah mengetahui setiap rencana, bahkan yang belum terujar masih tersimpan di dalam hati pun bisa diketahuinya.
Bersambung
Syeh sitijenar vs walisongo bagian 6
Karena untuk mengakrabi perlu upaya mendekatan yang memerlukan waktu tidak sebentar.” Kebo Kenongo mengangguk-anggukan kepala. “Ya, maka tahap akrab dengan Allah itulah ketika orang dalam keadaan ma’rifat. Ketika kita tidak memiliki lagi garis pemisah untuk saling bertemu. Kapan pun, dimanapun, tidak ada lagi sekat-sekat dan ruang kosong sebagai jeda untuk mengakrabinya.” Syekh Siti Jenar menghela napas dalam-dalam. “Ya, ya, benar, Syekh.” Kebo Kenongo berkali-kali mengangguk-anggukan kepalanya. “Nah, pada tahap akrab itulah kita meminta apa pun tidak mungkin tertolak. Mana ada keakraban tanpa adanya keterikatan kasih sayang?” Syekh Siti Jenar perlahan melangkah lagi. “Tentu, Syekh. Saya sangat paham.” Kebo Kenongo terkagum-kagum dengan uraian Syekh Siti Jenar. “Keakraban dengan Allah tidak mudah.
Namun ketika kita sudah berada dalam lingkarnya tidak mudah pula untuk melepas.” Syekh Siti Jenar berdiri mematung di bawah pohon kenanga. “Benar, meski saya pun dengan susah payah mendekat untuk meangkrabinya belum juga sampai. Karena upaya saya bukan hanya untuk mendekat dan mengajukan berbagai permohonan. Namun ingin mengakrabinya.” ujar Kebo Kenongo. “Jika dalam keadaan sangat akrab bukankah tidak memohon pun akan diberinya?” “Ya,” ujar Syekh Siti Jenar. “Berjuanglah dan bergeraklah ke arah sana. Jika sudah tercapai, keinginan lahiryah pun secara perlahan tidak lagi menjadi persoalan yang sangat istimewa. Itu semua dirasakan hanyalah sebagai pelengkap lahiryah saja. Sebagai syarat hidup.”
“Benar, Syekh.” Kebo Kenongo kembali mengiringi langkah Syekh Siti Jenar. “Padahal tidak hanya Raden Patah yang memiliki darah biru dan sekarang menjadi Penguasa Demak Bintoro. Saya pun masih keturunan Majapahit. Namun saya tidak punya hasrat sedikit pun untuk menjadi penguasa. Tujuan saya bukan itu, tetapi seperti Syekh terangkan tadi.” “Keinginan lahiryah itulah yang memenjarakan kita menuju ma’rifat. Ruang kosong, antara, jarak, jeda, pemisah, yang merintangi keakraban kita dengan Sang Pencipta.” terang Syekh Siti Jenar. “Perintang tadi berupa semua keinginan lahiryah yang distimewakan oleh nafsu keduniawian, karena ingin berkuasa, ingin kekayaan, dan banyak keinginan. Itu semua yang dinomor satukan.
Lahirnya keserakahan.” “Jika itu yang masuk ke dalam jiwa dan pikiran, hati ini akan terasa gelap.” ujar Kebo Kenongo. “Mana mungkin menuju akrab untuk mendekat pun kita harus mencari cahaya jika tidak tentu membabi buta.” “Nah, itulah penggoda manusia untuk meraih keakraban dengan Allah. Jernihkan hati, tenangkan jiwa, damaikan gejolak nafsu, merupakan upaya untuk membuka jalan keakraban.” tambah Syekh Siti Jenar. “Manusia terkadang sangat sulit menyusuri jalan yang penuh dengan godaan tadi. Karena dalam dirinya memiliki nafsu yang sangat sulit untuk dikendalikan. Itulah upaya perjuangan menuju keridloannya. Menuju akrab pada Allah. Terkadang manusia hanya sebatas berucap dibibir, bahwa dirinya telah akrab tetapi dalam kenyataannya tidak.
Lalu mengakui bahwa saya telah ma’rifat. Sebenarnya ma’rifat bukan sebuah pengakuan, tetapi realitas dalam tahapan akrab. Terbelenggulah dengan ikatan kata-kata.” “Ya.” Kebo Kenongo menghentikan langkahnya seiring dengan Syekh Siti Jenar. “Adakah perbedaan antara ma’rifat dengan akrab? Atau memang sama ma’rifat adalah akrab, sedangkan akrab adalah ma’rifat?” tanyanya kemudian. “Orang yang sudah ma’rifat tentu akrab. Orang yang sudah akrab tentu sudah ma’rifat.” terang Syekh Siti Jenar, jubahnya yang berwarna hitam berlapis kain merah tersibak angin pegunungan. “Ma’rifat itu sendiri?” kerut Kebo Kenongo. “Tahu, Mengetahui.” berhenti sejenak. “Namun tidak cukup itu, tentu saja harus diurai dengan maksud dan makna yang terarah. Mengetahui tentang apa? Tahu tentang apa? Tentu saja tentang dirinya dan Tuhannya. Bukankah terkait dengan makna akrab.
Sehingga ada istilah kalau ingin mengenal Gustimu, Allahmu, maka harus mengenal dirimu sendiri.” Lanjut Syekh Siti Jenar. “Saya pernah mendengar, Syekh.” Kebo Kenongo merenung. “Bukankah Tuhan itu lebih dekat dari pada urat leher dan lehernya, bola mata putih dengan hitamnya?” “Tentu,” Syekh Siti Jenar melirik ke samping. “Namun itu sifatnya umum. Tidak masuk ke dalam makna akrab. Bahkan ma’rifat juga mungkin tidak.” “Bukankah untuk menuju ma’rifat pun tidak mudah, Syekh? Tetapi ada tahapannya, yaitu Syariat, hakikat, tharikat, dan akhirnya ma’rifat.” ujar Kebo Kenongo.
“Harusnya demikian.” Syekh Siti Jenar memutar lehernya seiring dengan tatapan matanya, tertuju ke puncak pegunungan. “Bukan berarti orang harus memahami tahapan tadi. Karena tanpa memahami tahapan tadi pun orang bisa berada dalam tingkat ma’rifat, disadari atau diluar kesadarannya. Sebab tidak semua orang wajib tahu tentang sebuah istilah, yang penting adalah sebuah pencapaian, lantas bisa merasakannya.” “Bukankah istilah tadi hanya ada dalam agama Islam yang dianut Syekh sendiri.” tambah Kebo Kenongo. “Sedangkan dalam agama yang saya pahami tentu saja punya nama yang berbeda.” “Benar,” timpal Syekh Siti Jenar. “Namun tetap maksudnya sama.
Hanya sebutannya saja yang berbeda. Sehingga saya tadi mengurai seperti itu.” “Ya.” Kebo Kenongo menganggukkan kepala. “Ki, saya sudah berhasil mengumpulkan orang-orang untuk dijadikan pengikut kita.” ujar Loro Gempol menjatuhkan patatnya di atas kursi rotan. “Saya juga sama, Ki.” timpal Lego Benongo. “Mau kita apakan mereka, Ki?” “Menurut kalian?” Kebo Benowo balik bertanya. “Ki, bukankah andika masih keturunan dari raja-raja yang ada di tanah Jawa?” Loro Gempol menatap wajah Kebo Benowo. “Siapa turunan raja? Raja rampok yang andika maksud?” Kebo Benowo tersenyum. “Kenapa andika pun berbicara seperti itu, Gempol?” “Maksud saya, tidak lain mengumpulkan banyak pengikut tidak untuk dijadikan rampok, tapi mereka kita jadikan prajurit yang tangguh.” terang Loro Gempol. “Jadikan prajurit? Memang andika mau mengadakan pemberontakan pada raja Demak yang sah?” tatap Kebo Benowo. “Benar, rajanya andika, Ki.” Loro Gempol menganggukan kepala. “Saya jadi patih, sedangkan Lego Benongo sebagai Senapati. Joyo Dento kita angkat sebagai Panglima.” terangnya. “Andika ini tidakkah sedang bermimpi disiang bolong, Gempol.” Kebo Benowo terkekeh. “Mengapa bertanya seperti itu, Ki?” Loro Gempol mengerutkan dahinya. “Bukankah andika layak menjadi seorang raja. Kita sudah banyak pengikut. Kita punya kesaktian dan uang, yang belum kita miliki adalah kekuasaan dan wilayah, karena saat ini sedang dikuasai Demak.
Tidak ada salahnya jika Raden Patah kita taklukan, berada dalam perintah kita.” urainya. “Gempol, andika jangan berpikir terlampau jauh.” Kebo Benowo bangkit dari duduknya. “Kenapa aki selalu berbicara seperti itu. Tidakkah aki yakin pada kekuatan kita, bukankah banyak pengikut, bisa menciptakan uang, dan ilmu yang tinggi.” Loro Gempol meninggi. “Bukan demikian maksud saya, Gempol.” Kebo Benowo diam sejenak. “Meski kita punya banyak pengikut, menciptakan uang dan emas, serta ilmu tinggi, tentu saja semuanya tidak sebanding dengan kekuatan Penguasa Demak, Raden Patah. Selain itu mereka memiliki para wali yang selalu mendampingi dan memakmurkan masjid demak. Mereka semua memiliki ilmu yang cukup tinggi, kita tidak ada apa-apanya dibanding mereka.” urainya. “Benar juga ya, Ki.” Loro Gempol mengerutkan dahinya. “Namun untuk menghadapi para wali bukankah kita punya guru yang hebat, Syekh Siti Jenar, beliau bisa menghadapi para wali.” “Andika jangan berpikir seperti itu, Gempol.” Kebo Benowo bangkit dari duduknya. “Karena Syekh Siti Jenar bukan orang yang gila kekuasaan.
Mana mungkin dia mau melakukan pemberontakan dan meraih kekuasaan. Syekh Siti Jenar adalah orang yang sangat bersahaja, tidak tertarik pada urusan duniawi apalagi kedudukan dan kekuasaan. Beliau adalah ulama yang telah menyatu dengan Sang Pencipta. Mustahil tertarik dengan hal-hal yang berbau lahiryah. Karena menurut beliau kesenangan lahiryah hanyalah sekejap, yang paling nikmat adalah ketika beliau berada dalam tahap manunggaling kawula gusti. Bukan begitu? Tentu berbeda dengan kecenderungan kita.” terangnya. “Baru terpikirkan, Ki.” Loro Gempol membetulkan duduknya. “Namun aki sendiri apakah punya keinginan untuk meraih kekuasaan dan menikmati kesenangan dunia?”
“Tentu saja. Karena saya orang biasa dan seperti halnya orang lain, punya ambisi. Sebab saya bukanlah Syekh Siti Jenar.” ujar Kebo Benowo. “Namun seandainya kita memiliki keinginan seperti andika jelaskan tadi tentunya harus dengan cara lain.” “Cara lain?” Loro Gempol meletakan telunjuk di keningnya. “Ya, karena jika ingin memberontak. Kita harus mengukur kekuatan pasukan kita, lalu bandingkan dengan kekuatan Demak. Pikirkan pula tentang logistik kita selama berperang, selain itu ilmu kadigjayaan kita sudah sejauhmana, mungkinkah bisa mengalahkan para wali yang berilmu tinggi?” ujar Kebo Benowo. “Benar juga, Ki.” Loro Gempol mengangguk-anggukan kepala. “Itulah yang mesti kita pertimbangkan sebelum bertindak.” timpalnya. “Kita haruslah berpikir matang jika tidak ingin mati sia-sia, seperti halnya anai-anai menyambar api.” “Jika demikian harus bagaimana caranya, Ki?” Loro Gempol menatap Kebo Benowo, seraya dahinya mengkerut. “Itulah yang mesti kita pikirkan…” Kebo Benowo memijit dahinya. Keadaan hening sejenak, pikiran mereka menerawang ke alam kejadian yang akan datang. Berbagaimacam cara mereka olah dan cerna, demi tercapainya ambisi kekuasaan.
“Lantas ketika Syekh melayang apa yang terjadi?” tanya Kebo Kenongo. “Saya bisa melayang karena bisa mengatur berat tubuh.” Syekh Siti Jenar menatap langit, “Lihatlah di sana, Ki Ageng! Mengapa burung itu bisa beterbangan, lalu saling kejar di ketinggian yang tidak bisa kita jangkau karena keterbatasan.” “Tapi kenapa syekh sendiri bisa meloncati keterbatasan tadi?” “Sebenarnya bukan saya bisa meloncati keterbatasan, namun kita bisa mengatur batas, menjauh dan mendekatkan.” terang Syekh Siti Jenar.
“Maksud Syekh?” kerut Kebo Kenongo. “Samakah dengan yang saya dengar tentang Isra Mi’rajnya Nabi Muhammad?” “Ya, namun berbeda.” “Maksudnya?” “Jika Rasululah Isra Mi’raj dengan kehendak dan kekuasaan Allah. Sedangkan saya tidak.” ujar Syekh Siti Jenar. “Saya kurang paham, Syekh?” Kebo Kenongo memijit keningnya. “Ya, saya tidak bisa seperti Rasulullah. Sebab saya bukan beliau…” terang Syekh Siti Jenar. “Namun saya bisa menyatu dengan kekuatannya dan dzatnya. Hingga ketika saya menghendaki berada di pusat Negeri Demak dengan sekejap itu bukan persoalan yang mustahil.” tambahnya. “Benarkah itu, Syekh?” Kebo Kenongo semakin mengkerutkan dahinya. “Jika Ki Ageng Pengging ingin bukti, maka tataplah saya! Jangan pula Ki Ageng berkedip! Karena kepergian saya ke pusat kota Demak Bintoro bagaikan kedip, kembali pun dihadapan Ki Ageng seperti itu pula.
Saya dari pusat Kota Demak Bintoro akan membawa makanan segar.” usai berkata-kata, samarlah wujud Syekh Siti Jenar, hingga akhirnya lenyap dari pandangan Kebo Kenongo. “Lha,” Kebo Kenongo menggosok-gosok kedua matanya. “Benarkah yang sedang terjadi dan kuperhatikan ini?” “Inilah makan segar dari pusat kota Demak Bintoro, Ki Ageng.” “Lha, aih..aih..!” Kebo Kenongo terperanjat, ketika dihadapannya Syekh Siti Jenar sudah berdiri kembali seraya menyodorkan makanan hangat dengan bungkus daun pisang. “Itulah yang bisa saya lakukan, Ki Ageng.” ujar Syekh Siti Jenar, seraya duduk bersila di atas hamparan tikar pandan, dihadapannya terhidang dua bungkus makanan hangat yang beralaskan daun pisang. “Sekarang marilah kita makan alakadarnya.” “Ya,” Kebo Kenongo hanya menjawab dengan anggukan. “Saya tidak sanggup untuk memikirkannya, Syekh? Kenapa andika hanya dalam kedip pergi ke pusat kota Demak Bintroro untuk mendapatkan hidangan makan pagi. Padahal jika kita bejalan dari padepokan ini ke pusat kota Demak memakan waktu satu hari satu malam?”
“Benar, Ki Ageng Pengging.” Syekh Siti Jenar mengangguk. “Namun bukankah kita tidak sedang berbicara tentang perjalanan jasad?” “Maksud, Syekh?” “Ingatkah Ki Ageng Pengging ketika saya pernah bercerita tentang Kanjeng Nabi Sulaiman AS.?” ujar Syekh Siti Jenar. “Yang pernah Syekh baca dari ayat suci Alquran itu? Saya agak lupa.” Kebo Kenongo menempelkan telunjuk didahinya. “Ketika Kanjeng Nabi Sulaiman meminta kepada para pengagung negaranya untuk memindahkan kursi Ratu Balqis ke istananya. Siapakah yang bisa memindahkan singgasana Ratu Balqis dalam waktu yang sangat cepat, hingga jin Iprit menyanggupi.” “Ya, saya ingat, Syekh.” Kebo Kenongo tersenyum. “Namun bukankah Jin Iprit itu terlalu lama menurut Kanjeng Nabi Sulaiman, karena dia meminta waktu saat Baginda Nabi bangkit dari tempat duduk maka singgasana akan pindah…” “Benar, waktu seperti itu lama menurut Kanjeng Nabi Sulaiman.
Karena bangkit dari duduk memerlukan waktu beberapa saat. Hingga berkatalah seorang ulama serta mengungkapkan kesanggupannya, yaitu hanya sekejap. Kanjeng Nabi Sulaiman berkedip maka Singgasana Ratu Balqis pun akan berhasil dia bawa. Hanya satu kedipan.” terang Syekh Siti Jenar. “…dan terbuktilah kehebatan ulama tadi.” “Ya, benar, Syekh.” ujar Kebo Kenongo, “Itulah ilmu Allah. Mana mungkin bisa dicerna dan dipahami dengan keterbatasan berpikir manusia.” “Tidak semua manusia seperti itu, Ki Ageng.” terang Syekh Siti Jenar. “Itulah manusia kebanyakan, terkadang perkataannya dan pendalamannya dibidang ilmu dangkal. Namun meski pun memiliki kedangkalan berpikir terkadang dalam dirinya mencuat pula rasa angkuh dan sombongnya. Jika hal itu terjadi maka akan gelap untuk meraba dan meraih yang saya maksud.”
“Benar, Syekh. Hanya kejernihan berpikir dan menerima yang bisa membukakan kebodohan dan kekurangan diri kita…” timpal Kebo Kenongo. “Namun dalam uraian tadi apa yang membedakan kehebatan ilmu yang dimiliki oleh Jin Iprit dan Ulama?” “Tentu saja sangat berbeda.” Syekh Siti Jenar bangkit dari duduknya, seraya menatap langit. “Jin itu makhluk gaib, tidak aneh bagi bangsa mereka terbang, melayang-layang di angkasa, melesat secepat angin, menembus lubang sekecil lubang jarum, bahkan merubah wujud berbentuk apa pun yang dikehendakinya.” “Bisa pula tidak terlihat oleh manusia?” “Sangat bisa. Ya, karena memiliki sifat ghaib itulah. Hanya orang-orang tertentu saja yang bisa menembus alam jin.
Sebaliknya hanya jin tertentulah yang bisa menampakan diri pada manusia.” terang Syekh Siti Jenar. “Sehebat apa pun bangsa jin tentunya tidak bisa melebihi manusia.” “Bukankah pada zaman ini banyak pula orang-orang yang memiliki ilmu jin bahkan mengabdikan diri, karena ingin mendapat kesaktiannya.” timpal Kebo Kenongo. “Para dukun sakti saya rasa tidak terlepas dari kekuatan dan kesaktian atas bantuan bangsa jin yang dijadikan tuannya.” “Itulah kedangkalan berpikir manusia, Ki Ageng.
Mereka tidak melihat asal usul, jika manusia itu makhluk yang paling mulia di banding yang lainnya. Termasuk jin.” “Jika demikian, Syekh. Berarti kita harus menaklukan jin agar bisa memerintah mereka dan memanpaatkan kekuatannya. Namun apa mungkin kita bisa menaklukan jin?” “Kenapa tidak mungkin. Bukankah Kanjeng Nabi Sulaiman sendiri prajuritnya terdiri dari bangsa jin, selain binatang dan manusia?” “Tapi untuk menaklukan bangsa jin tentu saja ilmu kita harus di atas mereka, Syekh?” “Tentu saja, Ki Ageng.” ujar Syekh Siti Jenar. “Namun jika kita sudah memiliki ilmu dan kesaktian sebetulnya menjadi tidak perlu memiliki dan menaklukan jin. Karena kita bukan raja seperti Kanjeng Nabi Sulaiman, yang memerlukan prajurit dan abdi setia.
Untuk dijadikan balatentara dan membangun negara, dengan arsitek-arsitek yang kokoh. Jin dijaman Nabi Sulaiman di suruh menyelami laut untuk mengambil mutiara, di suruh membangun keraton berlantaikan kaca yang membatasi kolam dibawahnya.” “Meski bukan raja kita juga butuh prajurit pengawal, Syekh?” “Saya rasa tidak perlu bangsa jin yang dijadikan prajurit pengawal. Bukankah Kanjeng Nabi Muhammad juga tidak dikawal oleh bangsa jin, namun selalu disertai oleh Malaikat Jibril kemana pun beliau pergi.” “Lalu haruskah Kanjeng Nabi menundukkan Malaikat agar mengawalnya? Sakti mana dengan jinnya Kanjeng Nabi Sulaiman?” “Tentu saja Malaikat itu lebih sakti dari bangsa jin.
Karena yang mencabut nyawa jin juga Malaikat seperti halnya nyawa manusia. Kanjeng Nabi Muhammad pun tidak perlu menundukan Malaikat, karena dengan sendirinya Malaikat akan di utus oleh Allah untuk menyertai orang-orang shalih. Apalagi Malaikat Jibril sebagai pembawa wahyu Allah yang disampaikan kepada Kanjeng Nabi Muhammad.” urai Syekh Siti Jenar. “Syekh sendiri siapa yang mengawal?” “Karena saya manusia biasa, bukan nabi dan juga keshalihannya tidak saya ketahui, entahlah. Mungkinkah Allah mengutus Malaikat untuk mengawal atau tidak saya tidak tahu. Yang jelas saya tidak dikawal oleh bangsa jin…” Syekh Siti Jenar kembali duduk bersila. “Tapi kenapa Syekh memiliki kesaktian?”
“Ya, itu sedikit ilmu yang saya pelajari dari keMaha Besaran Allah. Mungkin yang mengawal saya kemana pun pergi adalah ilmu yang saya miliki. Sehingga dengan ilmu itu saya pun bisa memanggil prajurit Allah yang empat.” tambah Syekh Siti Jenar. “Prajurit Allah?” kerut Kebo Kenongo. “Apakah para Malaikat? Kalau di dalam agama saya para Dewa dan Hyang Jagatnata, penguasa triloka.” ”Prajurit Allah bukan Malaikat. Saya tidak akan berbicara tentang para Dewa.” berhenti sejenak, lalu tatapan matanya menyapu wajah Kebo Kenongo. “Namun yang akan saya bicarakan prajurit Allah. Ingat bukan Malaikat,” “Kenapa bukan Malaikat? Bukankah Malaikat bisa mencabut nyawa manusia dan bangsa jin yang goib?” tanya Kebo Kenongo. “Meskipun demikian Malaikat hanyalah makhluk Allah, tidak beda dengan kita. Hanya yang membedakan kita dengan Malaikat, dia adalah goib.
Malaikat memiliki keimanan tetap dan tidak pernah berubah, berbeda dengan bangsa manusia dan jin. Namun meski bagaimana pun tetap saja manusia makhluk yang paling mulia, tetapi sebaliknya derajat kemulian yang diberikan Allah kepada manusia akan lenyap. Bahkan manusia akan didapati sebagai makhluk yang lebih rendah dan hina dibawah binatang.” urai Syekh Siti Jenar. “Lalu prajurit yang dimaksud?” ”Yang dimaksud prajurit tentu saja penyerang, penghancur, perusak, dengan segala tugas yang diembannya.” “Mungkinkah mirip dengan Dewa Syiwa?” “Mungkin, Ki Ageng.” Syekh Siti Jenar berhenti sejenak. “Sedangkan prajurit Allah yang empat disini pun fungsi dan tugasnya untuk menghancurkan, merusak, dengan tujuan manusia berbalik pada jalan lurus. Mengingatkan kekeliruan yang pernah diperbuat oleh para khalifah bumi. Tujuannya tentu saja menyadarkan, jika yang menedapatkan taufiq dan hidayah. Adzab dan siksa bagi mereka yang tidak pernah mau bertobat dan kembali kepada jalan yang lurus.” “Lalu siapa yang dimaksud dengan prajurit Allah yang empat tadi, Syekh?”
“Prajurit Allah yang empat itu diantaranya…” Syekh Siti Jenar melangkahkan kakinya perlahan. “…pertama adalah angin. Lihatlah angin yang lembut dan sepoi-sepoi, namun perhatikan pula jika angin itu mulai dahsyat serta bisa memporak-porandakan bangunan sehebat apa pun, menghancurkan pohon-pohon yang tertancap kokoh, menerbangkan segala hal yang mesti diterbangkannya, bahkan menghancurkan sebuah kota atau perkampungan. Lantas ketika angin mengamuk siapa yang bisa membendung dan menghalang-halangi?” “Tidak ada, Syekh.” “Itulah kehebatan prajurit Allah yang disebut manusia, angin pada syariatnya. Padahal angin itu hakikatnnya membawa pesan pada manusia, pada para khalifah bumi, agar menyadari kekeliruan yang pernah diperbuatnya. Manusia yang melakukan keruksakan di muka bumi maka akan kembali pada perbuatannya, akibatnya.
Namun dalam hal ini manusia hanya memandang sebelah mata pada hakikat angin. Mereka lebih banyak bercerita dan memandang akan hal yang berbau logika dan penalaran semata, karena itu semua akibat dari keterbatasan ilmu yang dimilikinya. Ilmu yang manusia miliki tidak mencakup berbagai hal, namun terbatas hanya pada bidangnya saja. Sehingga manusia terkadang melupakan Allah yang memiliki lautan ilmu.” urai Syekh Siti Jenar, seraya langkahnya terhenti. Sejenak berdiri di tepi jalan, matanya menyapu tingginya puncak gunung yang diselimuti awan putih yang berlapis-lapis. “Bukankah manusia akan selalu merasa pintar jika seandainya berhasil menangani sedikit persoalan saja, Syekh?” “Itulah manusia. Namun tidak semuanya seperti itu. Tetapi itulah watak orang kebanyakan. Maka jika demikian tertutuplah pintu ilmu berikutnya, terhalang oleh keangkuhan dan kecongkakan yang terselip dalam batinnya.” ujar Syekh Siti Jenar. “Berbeda jika dibandingkan dengan manusia yang batinnya terang. Dia tidak akan pernah berbuat congkak, apalagi sombong, yang bisa membutakan mata hatinya. Sehingga orang seperti itu akan selamanya sanggup memahami segala hal dengan jernih….”
“…sangat sulit, Syekh.” Kebo Kenongo menarik napas dalam-dalam. “…pantas saja diri Syekh bisa terangkat pada derajat ma’rifat, karena telah sanggup membersihkan batin dari noda-noda tadi. Mungkin saya sulit mencapai ma’rifat tadi karena batin ini masih dijejali dan dikotori hal-hal yang membutakan, menghalangi, mengganggu dan merintangi. Pada intinya masih berbau keangkuhan, kesombongan, angkara, rasa iri dan dengki. Namun rasanya sulit untuk melepaskan hal-hal tadi, Syekh. Mungkin karena kesulitan itu datang akibat kita berada dalam hiruk pikuk kemewahan duniawi, yang selalu hadir di sisi kiri, kanan, depan, dan belakang kita?” “…jangan salah, Ki Ageng. Bukankah setiap manusia hidup memerlukan kebutuhan jasadiyah?” timpal Syekh Siti Jenar. “Duniawi adalah kebutuhan lahiriyah, sedangkan menuju ma’rifat adalah proses perjalanan batin menuju akrab.” “Benar, Syehk. Namun jika gangguan duniawi sangat terlalu kuat, bisa menggelapkan mata batin. Sehingga kita selalu memperjuangkan kepentingan jasadiyah tanpa kendali dan melupakan kebutuhan batinnya.
Bersambung
Namun ketika kita sudah berada dalam lingkarnya tidak mudah pula untuk melepas.” Syekh Siti Jenar berdiri mematung di bawah pohon kenanga. “Benar, meski saya pun dengan susah payah mendekat untuk meangkrabinya belum juga sampai. Karena upaya saya bukan hanya untuk mendekat dan mengajukan berbagai permohonan. Namun ingin mengakrabinya.” ujar Kebo Kenongo. “Jika dalam keadaan sangat akrab bukankah tidak memohon pun akan diberinya?” “Ya,” ujar Syekh Siti Jenar. “Berjuanglah dan bergeraklah ke arah sana. Jika sudah tercapai, keinginan lahiryah pun secara perlahan tidak lagi menjadi persoalan yang sangat istimewa. Itu semua dirasakan hanyalah sebagai pelengkap lahiryah saja. Sebagai syarat hidup.”
“Benar, Syekh.” Kebo Kenongo kembali mengiringi langkah Syekh Siti Jenar. “Padahal tidak hanya Raden Patah yang memiliki darah biru dan sekarang menjadi Penguasa Demak Bintoro. Saya pun masih keturunan Majapahit. Namun saya tidak punya hasrat sedikit pun untuk menjadi penguasa. Tujuan saya bukan itu, tetapi seperti Syekh terangkan tadi.” “Keinginan lahiryah itulah yang memenjarakan kita menuju ma’rifat. Ruang kosong, antara, jarak, jeda, pemisah, yang merintangi keakraban kita dengan Sang Pencipta.” terang Syekh Siti Jenar. “Perintang tadi berupa semua keinginan lahiryah yang distimewakan oleh nafsu keduniawian, karena ingin berkuasa, ingin kekayaan, dan banyak keinginan. Itu semua yang dinomor satukan.
Lahirnya keserakahan.” “Jika itu yang masuk ke dalam jiwa dan pikiran, hati ini akan terasa gelap.” ujar Kebo Kenongo. “Mana mungkin menuju akrab untuk mendekat pun kita harus mencari cahaya jika tidak tentu membabi buta.” “Nah, itulah penggoda manusia untuk meraih keakraban dengan Allah. Jernihkan hati, tenangkan jiwa, damaikan gejolak nafsu, merupakan upaya untuk membuka jalan keakraban.” tambah Syekh Siti Jenar. “Manusia terkadang sangat sulit menyusuri jalan yang penuh dengan godaan tadi. Karena dalam dirinya memiliki nafsu yang sangat sulit untuk dikendalikan. Itulah upaya perjuangan menuju keridloannya. Menuju akrab pada Allah. Terkadang manusia hanya sebatas berucap dibibir, bahwa dirinya telah akrab tetapi dalam kenyataannya tidak.
Lalu mengakui bahwa saya telah ma’rifat. Sebenarnya ma’rifat bukan sebuah pengakuan, tetapi realitas dalam tahapan akrab. Terbelenggulah dengan ikatan kata-kata.” “Ya.” Kebo Kenongo menghentikan langkahnya seiring dengan Syekh Siti Jenar. “Adakah perbedaan antara ma’rifat dengan akrab? Atau memang sama ma’rifat adalah akrab, sedangkan akrab adalah ma’rifat?” tanyanya kemudian. “Orang yang sudah ma’rifat tentu akrab. Orang yang sudah akrab tentu sudah ma’rifat.” terang Syekh Siti Jenar, jubahnya yang berwarna hitam berlapis kain merah tersibak angin pegunungan. “Ma’rifat itu sendiri?” kerut Kebo Kenongo. “Tahu, Mengetahui.” berhenti sejenak. “Namun tidak cukup itu, tentu saja harus diurai dengan maksud dan makna yang terarah. Mengetahui tentang apa? Tahu tentang apa? Tentu saja tentang dirinya dan Tuhannya. Bukankah terkait dengan makna akrab.
Sehingga ada istilah kalau ingin mengenal Gustimu, Allahmu, maka harus mengenal dirimu sendiri.” Lanjut Syekh Siti Jenar. “Saya pernah mendengar, Syekh.” Kebo Kenongo merenung. “Bukankah Tuhan itu lebih dekat dari pada urat leher dan lehernya, bola mata putih dengan hitamnya?” “Tentu,” Syekh Siti Jenar melirik ke samping. “Namun itu sifatnya umum. Tidak masuk ke dalam makna akrab. Bahkan ma’rifat juga mungkin tidak.” “Bukankah untuk menuju ma’rifat pun tidak mudah, Syekh? Tetapi ada tahapannya, yaitu Syariat, hakikat, tharikat, dan akhirnya ma’rifat.” ujar Kebo Kenongo.
“Harusnya demikian.” Syekh Siti Jenar memutar lehernya seiring dengan tatapan matanya, tertuju ke puncak pegunungan. “Bukan berarti orang harus memahami tahapan tadi. Karena tanpa memahami tahapan tadi pun orang bisa berada dalam tingkat ma’rifat, disadari atau diluar kesadarannya. Sebab tidak semua orang wajib tahu tentang sebuah istilah, yang penting adalah sebuah pencapaian, lantas bisa merasakannya.” “Bukankah istilah tadi hanya ada dalam agama Islam yang dianut Syekh sendiri.” tambah Kebo Kenongo. “Sedangkan dalam agama yang saya pahami tentu saja punya nama yang berbeda.” “Benar,” timpal Syekh Siti Jenar. “Namun tetap maksudnya sama.
Hanya sebutannya saja yang berbeda. Sehingga saya tadi mengurai seperti itu.” “Ya.” Kebo Kenongo menganggukkan kepala. “Ki, saya sudah berhasil mengumpulkan orang-orang untuk dijadikan pengikut kita.” ujar Loro Gempol menjatuhkan patatnya di atas kursi rotan. “Saya juga sama, Ki.” timpal Lego Benongo. “Mau kita apakan mereka, Ki?” “Menurut kalian?” Kebo Benowo balik bertanya. “Ki, bukankah andika masih keturunan dari raja-raja yang ada di tanah Jawa?” Loro Gempol menatap wajah Kebo Benowo. “Siapa turunan raja? Raja rampok yang andika maksud?” Kebo Benowo tersenyum. “Kenapa andika pun berbicara seperti itu, Gempol?” “Maksud saya, tidak lain mengumpulkan banyak pengikut tidak untuk dijadikan rampok, tapi mereka kita jadikan prajurit yang tangguh.” terang Loro Gempol. “Jadikan prajurit? Memang andika mau mengadakan pemberontakan pada raja Demak yang sah?” tatap Kebo Benowo. “Benar, rajanya andika, Ki.” Loro Gempol menganggukan kepala. “Saya jadi patih, sedangkan Lego Benongo sebagai Senapati. Joyo Dento kita angkat sebagai Panglima.” terangnya. “Andika ini tidakkah sedang bermimpi disiang bolong, Gempol.” Kebo Benowo terkekeh. “Mengapa bertanya seperti itu, Ki?” Loro Gempol mengerutkan dahinya. “Bukankah andika layak menjadi seorang raja. Kita sudah banyak pengikut. Kita punya kesaktian dan uang, yang belum kita miliki adalah kekuasaan dan wilayah, karena saat ini sedang dikuasai Demak.
Tidak ada salahnya jika Raden Patah kita taklukan, berada dalam perintah kita.” urainya. “Gempol, andika jangan berpikir terlampau jauh.” Kebo Benowo bangkit dari duduknya. “Kenapa aki selalu berbicara seperti itu. Tidakkah aki yakin pada kekuatan kita, bukankah banyak pengikut, bisa menciptakan uang, dan ilmu yang tinggi.” Loro Gempol meninggi. “Bukan demikian maksud saya, Gempol.” Kebo Benowo diam sejenak. “Meski kita punya banyak pengikut, menciptakan uang dan emas, serta ilmu tinggi, tentu saja semuanya tidak sebanding dengan kekuatan Penguasa Demak, Raden Patah. Selain itu mereka memiliki para wali yang selalu mendampingi dan memakmurkan masjid demak. Mereka semua memiliki ilmu yang cukup tinggi, kita tidak ada apa-apanya dibanding mereka.” urainya. “Benar juga ya, Ki.” Loro Gempol mengerutkan dahinya. “Namun untuk menghadapi para wali bukankah kita punya guru yang hebat, Syekh Siti Jenar, beliau bisa menghadapi para wali.” “Andika jangan berpikir seperti itu, Gempol.” Kebo Benowo bangkit dari duduknya. “Karena Syekh Siti Jenar bukan orang yang gila kekuasaan.
Mana mungkin dia mau melakukan pemberontakan dan meraih kekuasaan. Syekh Siti Jenar adalah orang yang sangat bersahaja, tidak tertarik pada urusan duniawi apalagi kedudukan dan kekuasaan. Beliau adalah ulama yang telah menyatu dengan Sang Pencipta. Mustahil tertarik dengan hal-hal yang berbau lahiryah. Karena menurut beliau kesenangan lahiryah hanyalah sekejap, yang paling nikmat adalah ketika beliau berada dalam tahap manunggaling kawula gusti. Bukan begitu? Tentu berbeda dengan kecenderungan kita.” terangnya. “Baru terpikirkan, Ki.” Loro Gempol membetulkan duduknya. “Namun aki sendiri apakah punya keinginan untuk meraih kekuasaan dan menikmati kesenangan dunia?”
“Tentu saja. Karena saya orang biasa dan seperti halnya orang lain, punya ambisi. Sebab saya bukanlah Syekh Siti Jenar.” ujar Kebo Benowo. “Namun seandainya kita memiliki keinginan seperti andika jelaskan tadi tentunya harus dengan cara lain.” “Cara lain?” Loro Gempol meletakan telunjuk di keningnya. “Ya, karena jika ingin memberontak. Kita harus mengukur kekuatan pasukan kita, lalu bandingkan dengan kekuatan Demak. Pikirkan pula tentang logistik kita selama berperang, selain itu ilmu kadigjayaan kita sudah sejauhmana, mungkinkah bisa mengalahkan para wali yang berilmu tinggi?” ujar Kebo Benowo. “Benar juga, Ki.” Loro Gempol mengangguk-anggukan kepala. “Itulah yang mesti kita pertimbangkan sebelum bertindak.” timpalnya. “Kita haruslah berpikir matang jika tidak ingin mati sia-sia, seperti halnya anai-anai menyambar api.” “Jika demikian harus bagaimana caranya, Ki?” Loro Gempol menatap Kebo Benowo, seraya dahinya mengkerut. “Itulah yang mesti kita pikirkan…” Kebo Benowo memijit dahinya. Keadaan hening sejenak, pikiran mereka menerawang ke alam kejadian yang akan datang. Berbagaimacam cara mereka olah dan cerna, demi tercapainya ambisi kekuasaan.
“Lantas ketika Syekh melayang apa yang terjadi?” tanya Kebo Kenongo. “Saya bisa melayang karena bisa mengatur berat tubuh.” Syekh Siti Jenar menatap langit, “Lihatlah di sana, Ki Ageng! Mengapa burung itu bisa beterbangan, lalu saling kejar di ketinggian yang tidak bisa kita jangkau karena keterbatasan.” “Tapi kenapa syekh sendiri bisa meloncati keterbatasan tadi?” “Sebenarnya bukan saya bisa meloncati keterbatasan, namun kita bisa mengatur batas, menjauh dan mendekatkan.” terang Syekh Siti Jenar.
“Maksud Syekh?” kerut Kebo Kenongo. “Samakah dengan yang saya dengar tentang Isra Mi’rajnya Nabi Muhammad?” “Ya, namun berbeda.” “Maksudnya?” “Jika Rasululah Isra Mi’raj dengan kehendak dan kekuasaan Allah. Sedangkan saya tidak.” ujar Syekh Siti Jenar. “Saya kurang paham, Syekh?” Kebo Kenongo memijit keningnya. “Ya, saya tidak bisa seperti Rasulullah. Sebab saya bukan beliau…” terang Syekh Siti Jenar. “Namun saya bisa menyatu dengan kekuatannya dan dzatnya. Hingga ketika saya menghendaki berada di pusat Negeri Demak dengan sekejap itu bukan persoalan yang mustahil.” tambahnya. “Benarkah itu, Syekh?” Kebo Kenongo semakin mengkerutkan dahinya. “Jika Ki Ageng Pengging ingin bukti, maka tataplah saya! Jangan pula Ki Ageng berkedip! Karena kepergian saya ke pusat kota Demak Bintoro bagaikan kedip, kembali pun dihadapan Ki Ageng seperti itu pula.
Saya dari pusat Kota Demak Bintoro akan membawa makanan segar.” usai berkata-kata, samarlah wujud Syekh Siti Jenar, hingga akhirnya lenyap dari pandangan Kebo Kenongo. “Lha,” Kebo Kenongo menggosok-gosok kedua matanya. “Benarkah yang sedang terjadi dan kuperhatikan ini?” “Inilah makan segar dari pusat kota Demak Bintoro, Ki Ageng.” “Lha, aih..aih..!” Kebo Kenongo terperanjat, ketika dihadapannya Syekh Siti Jenar sudah berdiri kembali seraya menyodorkan makanan hangat dengan bungkus daun pisang. “Itulah yang bisa saya lakukan, Ki Ageng.” ujar Syekh Siti Jenar, seraya duduk bersila di atas hamparan tikar pandan, dihadapannya terhidang dua bungkus makanan hangat yang beralaskan daun pisang. “Sekarang marilah kita makan alakadarnya.” “Ya,” Kebo Kenongo hanya menjawab dengan anggukan. “Saya tidak sanggup untuk memikirkannya, Syekh? Kenapa andika hanya dalam kedip pergi ke pusat kota Demak Bintroro untuk mendapatkan hidangan makan pagi. Padahal jika kita bejalan dari padepokan ini ke pusat kota Demak memakan waktu satu hari satu malam?”
“Benar, Ki Ageng Pengging.” Syekh Siti Jenar mengangguk. “Namun bukankah kita tidak sedang berbicara tentang perjalanan jasad?” “Maksud, Syekh?” “Ingatkah Ki Ageng Pengging ketika saya pernah bercerita tentang Kanjeng Nabi Sulaiman AS.?” ujar Syekh Siti Jenar. “Yang pernah Syekh baca dari ayat suci Alquran itu? Saya agak lupa.” Kebo Kenongo menempelkan telunjuk didahinya. “Ketika Kanjeng Nabi Sulaiman meminta kepada para pengagung negaranya untuk memindahkan kursi Ratu Balqis ke istananya. Siapakah yang bisa memindahkan singgasana Ratu Balqis dalam waktu yang sangat cepat, hingga jin Iprit menyanggupi.” “Ya, saya ingat, Syekh.” Kebo Kenongo tersenyum. “Namun bukankah Jin Iprit itu terlalu lama menurut Kanjeng Nabi Sulaiman, karena dia meminta waktu saat Baginda Nabi bangkit dari tempat duduk maka singgasana akan pindah…” “Benar, waktu seperti itu lama menurut Kanjeng Nabi Sulaiman.
Karena bangkit dari duduk memerlukan waktu beberapa saat. Hingga berkatalah seorang ulama serta mengungkapkan kesanggupannya, yaitu hanya sekejap. Kanjeng Nabi Sulaiman berkedip maka Singgasana Ratu Balqis pun akan berhasil dia bawa. Hanya satu kedipan.” terang Syekh Siti Jenar. “…dan terbuktilah kehebatan ulama tadi.” “Ya, benar, Syekh.” ujar Kebo Kenongo, “Itulah ilmu Allah. Mana mungkin bisa dicerna dan dipahami dengan keterbatasan berpikir manusia.” “Tidak semua manusia seperti itu, Ki Ageng.” terang Syekh Siti Jenar. “Itulah manusia kebanyakan, terkadang perkataannya dan pendalamannya dibidang ilmu dangkal. Namun meski pun memiliki kedangkalan berpikir terkadang dalam dirinya mencuat pula rasa angkuh dan sombongnya. Jika hal itu terjadi maka akan gelap untuk meraba dan meraih yang saya maksud.”
“Benar, Syekh. Hanya kejernihan berpikir dan menerima yang bisa membukakan kebodohan dan kekurangan diri kita…” timpal Kebo Kenongo. “Namun dalam uraian tadi apa yang membedakan kehebatan ilmu yang dimiliki oleh Jin Iprit dan Ulama?” “Tentu saja sangat berbeda.” Syekh Siti Jenar bangkit dari duduknya, seraya menatap langit. “Jin itu makhluk gaib, tidak aneh bagi bangsa mereka terbang, melayang-layang di angkasa, melesat secepat angin, menembus lubang sekecil lubang jarum, bahkan merubah wujud berbentuk apa pun yang dikehendakinya.” “Bisa pula tidak terlihat oleh manusia?” “Sangat bisa. Ya, karena memiliki sifat ghaib itulah. Hanya orang-orang tertentu saja yang bisa menembus alam jin.
Sebaliknya hanya jin tertentulah yang bisa menampakan diri pada manusia.” terang Syekh Siti Jenar. “Sehebat apa pun bangsa jin tentunya tidak bisa melebihi manusia.” “Bukankah pada zaman ini banyak pula orang-orang yang memiliki ilmu jin bahkan mengabdikan diri, karena ingin mendapat kesaktiannya.” timpal Kebo Kenongo. “Para dukun sakti saya rasa tidak terlepas dari kekuatan dan kesaktian atas bantuan bangsa jin yang dijadikan tuannya.” “Itulah kedangkalan berpikir manusia, Ki Ageng.
Mereka tidak melihat asal usul, jika manusia itu makhluk yang paling mulia di banding yang lainnya. Termasuk jin.” “Jika demikian, Syekh. Berarti kita harus menaklukan jin agar bisa memerintah mereka dan memanpaatkan kekuatannya. Namun apa mungkin kita bisa menaklukan jin?” “Kenapa tidak mungkin. Bukankah Kanjeng Nabi Sulaiman sendiri prajuritnya terdiri dari bangsa jin, selain binatang dan manusia?” “Tapi untuk menaklukan bangsa jin tentu saja ilmu kita harus di atas mereka, Syekh?” “Tentu saja, Ki Ageng.” ujar Syekh Siti Jenar. “Namun jika kita sudah memiliki ilmu dan kesaktian sebetulnya menjadi tidak perlu memiliki dan menaklukan jin. Karena kita bukan raja seperti Kanjeng Nabi Sulaiman, yang memerlukan prajurit dan abdi setia.
Untuk dijadikan balatentara dan membangun negara, dengan arsitek-arsitek yang kokoh. Jin dijaman Nabi Sulaiman di suruh menyelami laut untuk mengambil mutiara, di suruh membangun keraton berlantaikan kaca yang membatasi kolam dibawahnya.” “Meski bukan raja kita juga butuh prajurit pengawal, Syekh?” “Saya rasa tidak perlu bangsa jin yang dijadikan prajurit pengawal. Bukankah Kanjeng Nabi Muhammad juga tidak dikawal oleh bangsa jin, namun selalu disertai oleh Malaikat Jibril kemana pun beliau pergi.” “Lalu haruskah Kanjeng Nabi menundukkan Malaikat agar mengawalnya? Sakti mana dengan jinnya Kanjeng Nabi Sulaiman?” “Tentu saja Malaikat itu lebih sakti dari bangsa jin.
Karena yang mencabut nyawa jin juga Malaikat seperti halnya nyawa manusia. Kanjeng Nabi Muhammad pun tidak perlu menundukan Malaikat, karena dengan sendirinya Malaikat akan di utus oleh Allah untuk menyertai orang-orang shalih. Apalagi Malaikat Jibril sebagai pembawa wahyu Allah yang disampaikan kepada Kanjeng Nabi Muhammad.” urai Syekh Siti Jenar. “Syekh sendiri siapa yang mengawal?” “Karena saya manusia biasa, bukan nabi dan juga keshalihannya tidak saya ketahui, entahlah. Mungkinkah Allah mengutus Malaikat untuk mengawal atau tidak saya tidak tahu. Yang jelas saya tidak dikawal oleh bangsa jin…” Syekh Siti Jenar kembali duduk bersila. “Tapi kenapa Syekh memiliki kesaktian?”
“Ya, itu sedikit ilmu yang saya pelajari dari keMaha Besaran Allah. Mungkin yang mengawal saya kemana pun pergi adalah ilmu yang saya miliki. Sehingga dengan ilmu itu saya pun bisa memanggil prajurit Allah yang empat.” tambah Syekh Siti Jenar. “Prajurit Allah?” kerut Kebo Kenongo. “Apakah para Malaikat? Kalau di dalam agama saya para Dewa dan Hyang Jagatnata, penguasa triloka.” ”Prajurit Allah bukan Malaikat. Saya tidak akan berbicara tentang para Dewa.” berhenti sejenak, lalu tatapan matanya menyapu wajah Kebo Kenongo. “Namun yang akan saya bicarakan prajurit Allah. Ingat bukan Malaikat,” “Kenapa bukan Malaikat? Bukankah Malaikat bisa mencabut nyawa manusia dan bangsa jin yang goib?” tanya Kebo Kenongo. “Meskipun demikian Malaikat hanyalah makhluk Allah, tidak beda dengan kita. Hanya yang membedakan kita dengan Malaikat, dia adalah goib.
Malaikat memiliki keimanan tetap dan tidak pernah berubah, berbeda dengan bangsa manusia dan jin. Namun meski bagaimana pun tetap saja manusia makhluk yang paling mulia, tetapi sebaliknya derajat kemulian yang diberikan Allah kepada manusia akan lenyap. Bahkan manusia akan didapati sebagai makhluk yang lebih rendah dan hina dibawah binatang.” urai Syekh Siti Jenar. “Lalu prajurit yang dimaksud?” ”Yang dimaksud prajurit tentu saja penyerang, penghancur, perusak, dengan segala tugas yang diembannya.” “Mungkinkah mirip dengan Dewa Syiwa?” “Mungkin, Ki Ageng.” Syekh Siti Jenar berhenti sejenak. “Sedangkan prajurit Allah yang empat disini pun fungsi dan tugasnya untuk menghancurkan, merusak, dengan tujuan manusia berbalik pada jalan lurus. Mengingatkan kekeliruan yang pernah diperbuat oleh para khalifah bumi. Tujuannya tentu saja menyadarkan, jika yang menedapatkan taufiq dan hidayah. Adzab dan siksa bagi mereka yang tidak pernah mau bertobat dan kembali kepada jalan yang lurus.” “Lalu siapa yang dimaksud dengan prajurit Allah yang empat tadi, Syekh?”
“Prajurit Allah yang empat itu diantaranya…” Syekh Siti Jenar melangkahkan kakinya perlahan. “…pertama adalah angin. Lihatlah angin yang lembut dan sepoi-sepoi, namun perhatikan pula jika angin itu mulai dahsyat serta bisa memporak-porandakan bangunan sehebat apa pun, menghancurkan pohon-pohon yang tertancap kokoh, menerbangkan segala hal yang mesti diterbangkannya, bahkan menghancurkan sebuah kota atau perkampungan. Lantas ketika angin mengamuk siapa yang bisa membendung dan menghalang-halangi?” “Tidak ada, Syekh.” “Itulah kehebatan prajurit Allah yang disebut manusia, angin pada syariatnya. Padahal angin itu hakikatnnya membawa pesan pada manusia, pada para khalifah bumi, agar menyadari kekeliruan yang pernah diperbuatnya. Manusia yang melakukan keruksakan di muka bumi maka akan kembali pada perbuatannya, akibatnya.
Namun dalam hal ini manusia hanya memandang sebelah mata pada hakikat angin. Mereka lebih banyak bercerita dan memandang akan hal yang berbau logika dan penalaran semata, karena itu semua akibat dari keterbatasan ilmu yang dimilikinya. Ilmu yang manusia miliki tidak mencakup berbagai hal, namun terbatas hanya pada bidangnya saja. Sehingga manusia terkadang melupakan Allah yang memiliki lautan ilmu.” urai Syekh Siti Jenar, seraya langkahnya terhenti. Sejenak berdiri di tepi jalan, matanya menyapu tingginya puncak gunung yang diselimuti awan putih yang berlapis-lapis. “Bukankah manusia akan selalu merasa pintar jika seandainya berhasil menangani sedikit persoalan saja, Syekh?” “Itulah manusia. Namun tidak semuanya seperti itu. Tetapi itulah watak orang kebanyakan. Maka jika demikian tertutuplah pintu ilmu berikutnya, terhalang oleh keangkuhan dan kecongkakan yang terselip dalam batinnya.” ujar Syekh Siti Jenar. “Berbeda jika dibandingkan dengan manusia yang batinnya terang. Dia tidak akan pernah berbuat congkak, apalagi sombong, yang bisa membutakan mata hatinya. Sehingga orang seperti itu akan selamanya sanggup memahami segala hal dengan jernih….”
“…sangat sulit, Syekh.” Kebo Kenongo menarik napas dalam-dalam. “…pantas saja diri Syekh bisa terangkat pada derajat ma’rifat, karena telah sanggup membersihkan batin dari noda-noda tadi. Mungkin saya sulit mencapai ma’rifat tadi karena batin ini masih dijejali dan dikotori hal-hal yang membutakan, menghalangi, mengganggu dan merintangi. Pada intinya masih berbau keangkuhan, kesombongan, angkara, rasa iri dan dengki. Namun rasanya sulit untuk melepaskan hal-hal tadi, Syekh. Mungkin karena kesulitan itu datang akibat kita berada dalam hiruk pikuk kemewahan duniawi, yang selalu hadir di sisi kiri, kanan, depan, dan belakang kita?” “…jangan salah, Ki Ageng. Bukankah setiap manusia hidup memerlukan kebutuhan jasadiyah?” timpal Syekh Siti Jenar. “Duniawi adalah kebutuhan lahiriyah, sedangkan menuju ma’rifat adalah proses perjalanan batin menuju akrab.” “Benar, Syehk. Namun jika gangguan duniawi sangat terlalu kuat, bisa menggelapkan mata batin. Sehingga kita selalu memperjuangkan kepentingan jasadiyah tanpa kendali dan melupakan kebutuhan batinnya.
Bersambung
Subscribe to:
Posts (Atom)